ada sebuah pepatah,
"jika kamu sedang berusaha melupakannya, tapi gagal, cobalah ingat bahwa dia juga pernah berusaha mencintaimu, tapi gagal."
:)
ada sebuah pepatah,
"jika kamu sedang berusaha melupakannya, tapi gagal, cobalah ingat bahwa dia juga pernah berusaha mencintaimu, tapi gagal."
:)
aku adalah ranting dahan yang sengaja kaupatahkan dari tubuh pohon yang kekar
jatuh terkulai lemas dan berusaha menumbuhkan diri dengan pijakan tanah yang lembab paska diguyur hujan
aku menodai takdirku, ingin berusaha tetap hijau dan tak mau menjadi keriput
mendekap rerumput basah, menjadikan tubuhku tetap lapuk sedemikian rupa
melupakan sebuah elegi yang rumit sembari petang segera menjemput gelap
aku diguyur kekhawatiranku, menghitung detik demi detik, sisa masaku untuk membusuk
menyatu dengan alas pijakanku, mendekapnya dalam aroma liat yang tajam
menanti hingga ruas tulangku menggelora ke dalam akar-akar
aku dihisap dan tubuhku dicecap habis
menerka-nerka bagian mana yang akan kusinggahi setelah itu
menjadikanku abadi yang sementara
selamanya dalam sekejap
tubuhku tak terdefinisi, serat-serat darahku mengakar dalam jantungmu
pada suatu senja yang melemahkan sebagianmu, aku berbisik
"sepertinya, aku mengenali tempat ini"
kau tertunduk diam dan lesu, tak satupun kata terucap di benakmu
pagi hari, cerah dan merona di atap langit yang kerap menghidupkanmu dari tidur panjang
aku menyaksikanmu runtuh, terpenggal menjadi beberapa bagian
matamu sayu, sulit membedakan sebab sakit atau hanya sekadar lelah
atau mungkin mati?
di pucuk tanaman hias kini aku bersemayam
menetap dengan jeda waktu yang tak pernah kutahu hingga kapan
menjalani skenario sebagai jiwa yang lain, mungkin juga masih jiwaku
menyuburkan pijakanku sendiri, memahami makna hidup
dan kamu, pohon kekar tak berdaya yang kini tergeletak lemas di hadapanku,
terimakasih pernah menjadi rumahku, pijakanku, untuk tempat berlindung, berdiam diri, merengkuh impian, menanam harapan, memetik langkah
terimakasih pernah menjadikanku bagian dalam hidupmu
dan terimakasih telah membuatku akhirnya menemukan pijakan baru, setelah sebelumnya merasa tak berdaya ketika meninggalkanmu
(adindaretna - 2014)
untuk sebuah kepergian yang paling tulus, dengan sedikit ingkar di sela-sela kalimat "aku baik-baik saja", percayalah, aku jauh lebih baik sekarang. aku sedang menjalani skenario Tuhan yang sangat membuatku penasaran. hai, kamu. apa kabar? sudah lebih baik sekarang?
dan untuk mereka yang pernah menyebutku "manusia paling menderita seluruh dunia" aku harap Tuhan masih baik hati untuk tidak membalikkan keadaan seperti yang mereka katakan. tetaplah berjalan seolah aku lupa bahwa kakiku pernah menginjak pecahan kaca. anggap saja aku baik-baik saja, sampai nanti kau lupa bahwa aku pernah dalam keadaan "tidak baik-baik saja". kenapa harus aku? kenapa bukan kau?
.
.
.
.
.
.
.
dan ternyata aku jauh lebih baik dibandingkan dengan kepura-puraanku menjadi baik-baik saja.
selalu katakan, bahwa Allah itu sungguh Maha Baik.
😊😊😊
*latepost*
🌼adindaretna🌼
ada sebuah sesak yang masih mendekam di lubuk hati. tak mau dihembuskan meski telah berlalu selama sepuluh hari. sebuah kehilangan yang paling memukul jantungku hingga nyaris berhenti. melemahkan sebagian raga dan jiwa yang hari itu juga sebenarnya sedang direngkuh bahagia. menjadikannya seperti tak berharga, sangat tak ada artinya. mendeskripsikan hari itu sebagai hari paling kejam di seluruh hari yang pernah kulewati hingga detik itu. memaksa otakku untuk terus mengungkap makna dibalik getaran luar biasa yang kurasakan. hampir sulit mempercayai bahwa kenyataan memang sangat pahit. bahwasanya di dunia ini tak pernah ada yang abadi dan tak pernah seutuhnya bisa dimiliki. semuanya akan kembali dengan cara atau keadaan yang berbeda. definisi 'kembali' yang selalu kutatar dengan keegoisan diri bahwa semua hal pasti ada yang setuju dan tidak setuju.
kali ini aku setuju denganmu, Tuhan. aku memang egois. bahwasanya semua adalah milikMu, tak sepantasnya kuanggap semuanya adalah kepunyaanku di dunia yang kejam ini.
(adindaretna, 2014)
ada sebuah rasa 'entah' dan 'tak terdefinisi'. sebuah perasaan takut untuk mendeskripsikannya sebagai bentuk rasa kehilangan. belum sejauh itu, pikirku. namun, seolah telah sangat siap untuk mengetahui satu hal bahwa aku akan kehilangan. lagi-lagi aku berbisik "dia belum sejauh itu".
waktu telah mendewasakan keadaan. sebuah garis masa yang terus akan tergores seiring kaki kita melangkah. sebuah perasaan 'entah' ini terus mengusikku hari ini. mungkin Hypophrenia, --seperti tweet yang barusan saja dia retweet-- yang cocok untuk menggambarkan kondisiku saat ini.
(adindaretna - 2014)
di suatu pagi yang cerah, yang bahagia. saling mencari untuk sebuah kabar gembira yang ingin kita bagikan satu sama lain. bahagiamu yang terefleksi oleh kalimat-kalimat rendah diri. seolah kamu tak pantas mendapatkan itu. seolah posisimu serba salah. seolah kamu merasa beruntung, tapi tak bisa mengekspresikannya dengan cara yang normal. bahagiamu bahagiaku juga, kawan. sedihmu, sedihmu sendiri. hahahahaha. aku bercanda. sedihmu tak akan pernah kubiarkan untuk lama-lama terbendung di matamu. jika memang harus kaulepas jatuh, jatuhkanlah hingga ia menyentuh tanah dan menembus bumi lalu alpha ditelan perutnya. iya, aku akan selalu menemanimu dalam batas yang sewajarnya, seperti kamu yang pernah berkata "aku tidak akan pernah meninggalkan kawanku meskipun aku ditinggal pergi olehnya". dan baiklah, kita adalah sepasang sepatu, selalu bersama tapi tak bisa bersatu. karena mencintaimu adalah hal yang paling ajaib jika itu sampai terjadi. karena cukup menjadi tempat sampah bagimu sudah membuatku sangat berarti berada di sisimu.
by the way, terimakasih untuk beberapa minggu yang menenangkan ini ya. ah, aku memang lebay dan alay, seperti katamu. menjadi orang yang berjalan disampingmu dan terasa nyaman tanpa ada perasaan lebih kecuali sayang untuk sahabat sepertimu itu memang langka. dan untuk kebahagiaanmu pagi ini, aku ucapkan selamat! selamat menempuh hari yang baru, hari yang akan lebih indah dari sebelumnya, hari yang akan lebih bersemangat, lebih berwarna, lebih cerah, lebih bermakna. disamping aku telah mewujudkan satu mimpiku, ternyata kamu juga telah mewujudkan satu mimpi khayalmu untuk mendapatkan sebuah cinta yang tulus. hmmm :)
tugas kita belum selesai, kawan. perjalanan kita masih sangat panjang. hidup baru saja dimulai sekarang. dan bolehkah aku untuk selalu ada di langkah-langkah perjuanganmu? menjadi tempat sampah yang terus kaucari ketika dunia telah kejam kepadamu? hehehehe. aku alay dan lebay ya.
"kita adalah sepasang sepatu, selalu bersama tak bisa bersatu." Tulus - Sepatu
(adindaretna - 2014)
potongan-potongan kertas warna-warni, bertuliskan rasaku untukmu. kugambar dengan sangat hati-hati dan dengan sebuah harapan yang tinggi. terkumpul waktu 14 hari untuk menyelesaikan semua menjadi satu hal yang amat kubanggakan. butuh 8 hari untuk mengukir dan melukis kata-kata dengan membubuhkan warna yang cantik agar sedap dipandang. butuh 3x24 jam untuk merangkai satu per satu menjadi sebuah rangkaian cerita singkat yang mengagumkan. tanpa tidur sama sekali. butuh 2 hari untuk menjadikannya sebuah film pendek dengan software yang kadang error ketika sudah sampai di tengah cerita. kadang sering harus mengulang dari awal. kadang juga harus berhenti mendadak di tengah penyusunan. ternyata se-berjuang inikah caraku untuk menyatakan bahwa aku sayang kamu? sisanya, 1 hari kugunakan untuk mengunggahnya ke situs populer YouTube. iya, aku membuatkanmu video stopmotion pertama kali yang membutuhkan waktu 14 hari untuk menggarapnya. aku terkesan menyiksa diriku sendiri ya, hehehehe. kamu tau kan, aku ikhlas kok melakukannya,........waktu itu. :)
kini, material potongan-potongan kertas yang cantik itu sudah jadi abu. jadi sampah. :)
aku membakarnya dengan sebuah harapan besar, abu itu tak akan menjadi utuh kembali seperti sediakala. karena itu tak akan pernah mungkin terjadi. sebuah akhir yang sudah terjadi di depan mata tak akan pernah mungkin kembali lagi menjadi awal, dengan rasa yang sama.
(adindaretna - 2014)
siang yang melarutkan pagi dengan kejam. hawa panasnya serta merta mengusik tubuhku yang masih inginkan sejuk mendekap. ah, rupanya memang sudah siang. pukul 12 lewat 19 ini aku terbaring di tempat tidur kamarku. ada sesuatu yang sedang mengganggu sistem imun di tubuhku. sebenarnya masih terlalu sehat untuk mengatakan bahwa aku sakit, pun sebaliknya. aku sendiri tak tahu persis apakah aku sedang sakit atau sudah sembuh. hmmm...
aku sudah lebih baik meskipun beberapa orang sempat menemuiku 'terlihat' bahagia dengan hidupku sekarang. hahahaha. maaf kalau aku tertawa setelah menyebut kalimat di atas. ada beberapa hal yang membuat hidupku dalam waktu terakhir terlihat berbeda. pertama, aku mempunyai 'obat', aku mengkonsumsinya setiap saat meskipun aku baik-baik saja dan meskipun tidak sedang divonis sakit hati. kedua, aku mendapatkan layang-layang yang memiliki bentuk yang indah setelah sebelumnya aku hanya bisa menatapnya saja dari kejauhan. ketiga, aku telah membakar benda yang merefleksikan waktu secara nyata dan tampak, kemarin pagi ketika cuaca hatiku sedang buruk. keempat, ada beberapa orang yang kuanggap tidak baik yang sudi ingin tahu perkembanganku. hahahahahaha. boleh aku tertawa untuk hal nomor empat? hahahahahaha.
siang ini random, ya? ada baiknya aku pergi tidur siang.
(adindaretna - 2014)
teruntuk hati yang masih berusaha mengikhlaskan.... sebuah kepergian tak ada yang terlepas dari kata ketulusan. seperti halnya pertemuan, tak pernah luput untaikan perpisahan disampingnya. selalu dan selalu. mempercayai bahwa takdir Tuhan akan bergegas menyadarkanmu tentang mimpi-mimpi yang kau anggap baik. melupakan bahwasanya kita memiliki sebuah ketetapan semesta yang tak pernah sekalipun diragukan. bahwasanya sebuah pertemuan pasti ada perpisahan. sebuah pepatah klasik yang sulit diterima oleh hati yang terlanjur ditinggal pergi tuan rumahnya.
kembali menyadari satu hal bahwa ini bukan pertama kalinya aku ditinggal cinta pergi. cinta tak pernah pergi, cinta selalu tinggal disini, dalam hati. seseorang yang selalu kukira jawaban Tuhan dengan anggapan bahwa aku adalah tulang rusuknya, telah mematahkan hatiku, meninggalkannya berserakan tanpa memberi sebuah alasan pasti kenapa ia memilih untuk pergi. menanggalkan semua ikrar dan persembahan yang kerap membuatku melambung tinggi. kini, aku terhempas ke tanah kesakitan yang penuh dengan lumpur dan kerikil tajam. aku sedang terluka parah, berharap ada yang membawaku ke rumah sakit terdekat, atau memilih untuk aku sendiri yang mengobati dan menyembuhkannya, karena aku sang tenaga ahli kesehatan, aku juga hapal beberapa nama dan fungsi obat meskipun aku tahu itu konyol dan sebenarnya tidak membantu.
masih tentang sebuah kepergian, entah apakah Tuhan selalu menyisipkan pertemuan selaras ketika Dia menciptakannya, atau Tuhan masih memberikan jeda yang panjang untuk membuktikan bahwa kita pantas memiliki pertemuan yang panjang. aku sudah sampai di garis finish yang kaugambar dengan kapur patahmu. aku telah berdiri disini sejak dua bulan silam. menunggumu menarik lenganku dan mengajakku untuk kembali ke garis start. bodohnya, aku masih melakukan itu. aku berdiri di tepi garis ujung dan masih memandangmu berjalan pelan bersama wanita itu. wanitamu kini. entah masih samar-samar bahwa kau dan dia sedang berjalan pula menuju arahku tempat kakiku berpijak. entah. aku hanya ingin memahami satu hal, sebuah kepergian yang kugenggam perlahan-lahan akan kulepas dengan sangat hati-hati. agar nantinya hal itu tak akan pernah menyakitimu, menyerangmu, dan membunuhmu, seperti yang mereka lakukan kepadaku. biarkan aku melepasnya dengan sebuah keikhlasan yang paling ikhlas sedunia. berjalan menyusuri jalan setapak ini sendirian. merengkuh mimpi-mimpiku yang belum terwujudkan, tentunya tanpa menghadirkan kamu di dalamnya. karena kamu tak lebih dari sebuah mimpi yang telah kuraih, kubanggakan, dan kini nyaris terlupakan.
"ada sebuah jejak kaki yang tertinggal pasrah, di garis akhir yang kaugambar dengan jelas. rupanya sepasang kaki itu sudah tak lagi berdiri disitu. ia telah lelah berdiri dan menanti. rupanya ia memilih untuk benar-benar pergi. menjalankan skenario Tuhan yang lain, dengan segenggam mimpi di tangan kanannya. ia membuang jauh mimpi kelam tentang sebuah kepergian yang menyesakkan. kali ini ia cukup kuat untuk melangkahkan kakinya. garis finish itu merupakan titik awalnya untuk kembali melangkah. berbesar hati merengkuh sebuah perpisahan, sambil tetap hidup dan bernapas. tentunya juga dengan bahagia."
(adindaretna - 2014)
kamu tak perlu berbohong untuk menjaga perasaan sebuah cinta
karena lebih menyakitkan mengetahui bahwa selama ini kau tak pernah mencintainya
padahal ia selalu berharap kaulah yang akan menemaninya hingga akhir hidup
dia selalu berdoa agar kaulah yang selalu menjadi rumah untuk melepas segala penat yang ia rasa
ia berpesan pada Tuhan agar mengambil sebagian hatinya dan menanamkannya padamu
namun ia lupa tak pernah memohon sebuah timbal balik
mungkin akan sakit sekali
nyatanya memang amat sangat sakit sekali
kini ia mengetahui satu hal, bahwa selama ini cintanya bertepuk sebelah tangan
ia memberimu 80, sedangkan kau hanya 20
ia terlalu menggebu-gebu, pikirmu
ia jatuh sakit dan terpuruk
ia hampir bunuh dari, hampir ingin mati
ia terluka, tetapi ia berkata lebih baik begini
lebih baik mengetahui ini lalu kecewa, daripada tidak pernah tau dan selalu berharap
kini ia tersenyum
karena berhasil melepas kupu-kupu yang tak ingin digenggam terlalu erat
membiarkannya hidup di alam bebas
menyaksikannya jatuh cinta dengan bunga yang cantik
memandangnya dari kejauhan
dan mengerti akan satu hal
bahwa cinta memang tak bisa dipaksakan
sekalipun doa dapat mengubah segalanya
tibalah saat untuk benar-benar pergi
dan berhenti menyaksikannya dari kejauhan
pergi untuk belajar menggenggam kupu-kupu dengan baik
mungkin bukan kupu-kupu, mungkin tak mau lagi kupu-kupu
kini ia teramat sanggup untuk pergi
mengikhlaskan sebuah hal paling rumit yang pernah dunia ciptakan
bahwa cintanya tak harus kumiliki
diantara cinta-cinta yang berhak dan pantas kumiliki
untuk kesekian kalinya ia tersenyum dan berkata:
selamat berbahagia yang sesungguhnya!