Semilir berhembus menggetarkan kudukmu
Sambil membuai gadis kecil terkasih di pangkuanmu
Tak lupa kau lirihkan lagu tidur agar ia makin lelap
Tak pedulikan lalu lalang hanya berlalu meninggalkan
Sembab matamu kini sudah tak nampak
Mungkin telah habis kiranya dalam muaramu
Seteguk doa mengalir hingga ke helai rambut yang kau usap lembut
Mengharap keikhlasan dan keibaan demi sebutir nasi untuk adikmu tersayang
Dingin sudah acapkali menembus rongga dadamu
Sesak dan berulangkali tak kauhiraukan
Apalagi yang harus kau eluhkan, berucap syukur selalu kau panjatkan
Tiada lagi harta yang kau miliki, selain gadis mungil yang kini berada dalam dekapanmu
Bertahanlah dalam hidup ini, sayang
Kububuhkan selalu doa untuk kalian
Yakinlah selalu ada titik cerah di terowongan yang gelap sekalipun
*terinspirasi dari: seorang anak laki-laki penjual koran yang sedang mendekap adik perempuannya di pinggiran suatu Mall, cuaca sedang hujan dan mungkin mereka sedang kedinginan :(
(Desember - 2011)
Showing posts with label Gadis kecil penjual koran. Show all posts
Showing posts with label Gadis kecil penjual koran. Show all posts
Wednesday, December 7, 2011
Saturday, February 19, 2011
Gadis Kecil Penjual Koran
rintihan parau berdendang dalam langkah mungil.
semburat perca yang lusuh membalut tubuh tak berdosamu.
kau acuh, meski tanpa teduhan apapun.
disamping sebentuk receh, tumpukan koran juga menemani istirahat siangmu.
tak hiraukan terik sinar yang menjilat dasar jejak cita.
langkahmu mengharu pasti, bahkan iba enggan untuk mengiringi.
kau mutiara kecil kami, terisak diantara deru mesin turbo.
mungkin kau sangat lelah menumpu waktu.
padahal sebentar lagi senja akan mengetuk langit.
ratapmu masih sama, terkulai dalam duka yang pedih.
jangan menangis, bidadari mungilku.
suatu hari nanti, Tuhan pasti mengganti berliter-liter peluhmu.
dan berjanji akan membuaimu dalam kehangatan surga-Nya.
***
terinspirasi dari gadis kecil penjual koran yang sedang menangis, di traffic light Kampus C UNAIR Surabaya, Kamis, 20 Januari 2011 sekitar pukul 15.00 WIB
semburat perca yang lusuh membalut tubuh tak berdosamu.
kau acuh, meski tanpa teduhan apapun.
disamping sebentuk receh, tumpukan koran juga menemani istirahat siangmu.
tak hiraukan terik sinar yang menjilat dasar jejak cita.
langkahmu mengharu pasti, bahkan iba enggan untuk mengiringi.
kau mutiara kecil kami, terisak diantara deru mesin turbo.
mungkin kau sangat lelah menumpu waktu.
padahal sebentar lagi senja akan mengetuk langit.
ratapmu masih sama, terkulai dalam duka yang pedih.
jangan menangis, bidadari mungilku.
suatu hari nanti, Tuhan pasti mengganti berliter-liter peluhmu.
dan berjanji akan membuaimu dalam kehangatan surga-Nya.
***
terinspirasi dari gadis kecil penjual koran yang sedang menangis, di traffic light Kampus C UNAIR Surabaya, Kamis, 20 Januari 2011 sekitar pukul 15.00 WIB
Subscribe to:
Posts (Atom)
