tam-tim-tum
kueja kamu layaknya kosakata
sesambil melumat bolu isi cokelat
persembahanmu
yang kerap menghuni selasela gigi
di kubus remang itu
kuning-muda-hijau-tosca
kau memelihara rinduku
sehengkang demi hengkang langkah
turut menahan kenang
pun jejak kecupmu di kening
di seantero wajahku bergetar
harapan nan berjudul sesiapa
lekas menghampar seketika kau pergi
dan empat belas hari yang terbilang singkat
bagiku itu sebuah hilir ingatan
berujung pada benderang
sekejap gerimis bertandang
di ruang penghabisan
aku mengeja namamu lagi
tam-tim-tum
buat seseorang yang berinisial
***
(April - 2012)
Showing posts with label syair. Show all posts
Showing posts with label syair. Show all posts
Sunday, April 8, 2012
Intermezo
sembilan jam menuju pertemuan
acapkali ingin kusudahi malam
lekas menyamai deritan dipan yang uzur
mendekut gerigau bualanku yang empuk
biar segera dilumat desau angin
langkahlangkah dosa kian luput
ditampik khilaf sesore tadi
bilakah rindu berdiang tenang
bukankah tak perlu berjumpa puja, sayang?
sekadar rindui sketsa dekapanmu
bagiku ruparupa jelaga mempesona
khas aroma picisan
bangun kemudian kutenggak hampa
memerah pipi terkecup fajar
seketika padang pasir bersalju
mematahari depaan malam
pun dideraikan lewat rintik hujan
dan dipersilakan memupuk janji
di kelingkingku(Februari - 2012)
WEKA, Ini Permulaannya
diraupinya segera
lekukan parsial yang istimewa
membiarkan tetesan berjatuhan
mengusap gusar
yang dikitari poripori lebam
sekelumit sepah berlentik mancung
mamantul di cermin usangmu
betapa sesal mencekikmu semalam
merombak tatanan korona arterimu
dijerat kealpaan waktu
dusta yang tak dikenal
melenggang merdu
atau kuharap lekas digincir aku
di sudut weka
bunga berkelopak mewah
bersenandung cinta
ini permulaannya
kau mendua(Oktober - 2011)
dikelupas keyakinan
:kepada sahabat yang membenci, Ni Wayan
ni, lekaslah mengeja hatimu
sebelum keyakinan mengelupasimu
semua akan terhisap dalam mesin waktu
rapi, seperti ponimu
ni, hari masih terbilang pagi
tapi bola mata senjamu ingin segera menari
kadang kau teramat merindui dimensi
dimana mimpi menjelma pada janji dalam hati
ni, tiada bintang tak bertuan kasih
kecuali iba sebab dikunyah letih
bila masih ragu, tetaplah berdalih
pun sakitnya tak buatmu berhenti merintih"apa kabar, ni? masihkah kau mencintai lelaki senja yang sedang bersamaku saat ini?"
***
(April - 2012)
Friday, April 6, 2012
gambaranku kala itu
\1\ ampas ken(angan)
sesegera kalut menampar muasal angan, yang kerap menipuku dengan rayuannya. beserta kelihaian jemari lembutnya mengusap tetes demi tetes peluhku. ya, dia memang bermuasal angan yang akhirnya merubah wujudnya sendiri menjadi kenangan.
\2\ kepulan aroma luka
nyaris senyumku dilumat habis oleh bibir cangkir pengkhianat itu. merah anyir menggelora di sekujur tubuh pendosa munafik yang acapkali memporakporanda mimpiku. "arrrggghh, dejavu! lagi-lagi aku bertemu dengan lelaki keparat itu lewat bunga tidurku."
\3\ cangkir yang retak
ya. seperti itu gambaranku kala itu. dimana cangkir kuibaratkan seperti hati.
(April - 2012)
sesegera kalut menampar muasal angan, yang kerap menipuku dengan rayuannya. beserta kelihaian jemari lembutnya mengusap tetes demi tetes peluhku. ya, dia memang bermuasal angan yang akhirnya merubah wujudnya sendiri menjadi kenangan.
\2\ kepulan aroma luka
nyaris senyumku dilumat habis oleh bibir cangkir pengkhianat itu. merah anyir menggelora di sekujur tubuh pendosa munafik yang acapkali memporakporanda mimpiku. "arrrggghh, dejavu! lagi-lagi aku bertemu dengan lelaki keparat itu lewat bunga tidurku."
\3\ cangkir yang retak
ya. seperti itu gambaranku kala itu. dimana cangkir kuibaratkan seperti hati.
(April - 2012)
Tuesday, March 20, 2012
ini candu
ini candu
yang kugeletakkan disamping tumpukan sampah kenangan
berdekut dihunus lampiaslampias abu yang nyaris gontai
teridap kesakitan oleh sajak cinta terdungu
berdiang di kelopak ternanar bak sesepat ampas gerigau
"ini candu yang kupinjam darimu dulu, sekarang kukembalikan padamu"
yang kugeletakkan disamping tumpukan sampah kenangan
berdekut dihunus lampiaslampias abu yang nyaris gontai
teridap kesakitan oleh sajak cinta terdungu
berdiang di kelopak ternanar bak sesepat ampas gerigau
"ini candu yang kupinjam darimu dulu, sekarang kukembalikan padamu"
Tuesday, March 13, 2012
lalu apa?
firasat ini terlalu kuat jika harus bermuara dalam benakmu, sayang. aku menyimpan seluruh kesucian pandangan agar kelak nantinya kau dapatkan apa yang kausebut itu sebagai anugerah. biarkan tubuh kita basah diguyur konflik. jangan pernah mencoba untuk menghindarinya, sayang. biarpun aku harus menggigil karena berusaha bertahan dari cuaca sikapmu yang dingin. biarkan meski aku harus hipothermia dan sulit untuk menelan kepastian.
jika kau telusuri lebih dalam lagi, sorot mataku, akan kau dapati seribu kerangka bayangan peristiwa yang acapkali mencekik leherku. bukankah organ jantung sedang bekerja sesuai perkiraan, bilamana menjumpai --yang kerap mereka definisikan sebagai soulmate-- atau separuh dari jiwa yang fiktif, lalu jantung akan bekerja lebih sempurna? ia tak akan lupa mengabsen kehadiran belahan jiwanya di tiap degupan yang selaras dengan ingatan :).
lalu, untuk apa kucemburui wanita itu? padahal ia tak pernah sedikitpun kauijinkan untuk sekedar menyentuh labirin bayangmu. lalu, untuk apa selalu kupitam janjimu ketika aroma ringkihnya mulai tercium di sudut rahangmu? untuk apa? lalu apa?
cermati kerja jantung milikmu, masihkah ia berdenyut teratur seirama dengan tetubi tusukan belati di milikku?
jika kau telusuri lebih dalam lagi, sorot mataku, akan kau dapati seribu kerangka bayangan peristiwa yang acapkali mencekik leherku. bukankah organ jantung sedang bekerja sesuai perkiraan, bilamana menjumpai --yang kerap mereka definisikan sebagai soulmate-- atau separuh dari jiwa yang fiktif, lalu jantung akan bekerja lebih sempurna? ia tak akan lupa mengabsen kehadiran belahan jiwanya di tiap degupan yang selaras dengan ingatan :).
lalu, untuk apa kucemburui wanita itu? padahal ia tak pernah sedikitpun kauijinkan untuk sekedar menyentuh labirin bayangmu. lalu, untuk apa selalu kupitam janjimu ketika aroma ringkihnya mulai tercium di sudut rahangmu? untuk apa? lalu apa?
cermati kerja jantung milikmu, masihkah ia berdenyut teratur seirama dengan tetubi tusukan belati di milikku?
Thursday, March 1, 2012
serupa kabisat
aku merindui sketsa dekapanmu yang bagiku ia serupa jelaga beraroma picisan
yang bilamana hendak kulukis merah senja di pelataran sukmanya, seketika matanya memancarkan gradasi pelangi
aku merindui patahan jenuh yang kaurekatkan dengan ikrar bak galaksi yang tak mungkin berpisah dari langit
meski sebelumnya telah kuketahui bahwa semua itu akan musnah, seiring waktu berjalan
aku teramat mencintaimu, sayang. bukan sebab ini kabisat pertama kita. sebab, kamu tak hanya langka seperti kabisat, yang tak banyak orang punyai kesetiaan yang sama dalam menanti kehadirannya. kamu, serupa janji yang kuselipkan di jemari manis ketika fajar memerahkan pipiku. kamu, serupa lukisan yang kupajang di dalam ruang tamu rumah masa depanku. kamu tak hanya indah, sayang, kamu itu lebih dari indah :*
terimakasih untuk keajaiban yang Allah ciptakan hari ini dengan menghadirkan kamu sebagai perantaranya. aku sayang kamu. bolehkah aku cantumkan namamu disini, Paradita Winenda Aditama? iya, disini, di kalender hatiku, tepat dibawah angka kabisat itu :*
yang bilamana hendak kulukis merah senja di pelataran sukmanya, seketika matanya memancarkan gradasi pelangi
aku merindui patahan jenuh yang kaurekatkan dengan ikrar bak galaksi yang tak mungkin berpisah dari langit
meski sebelumnya telah kuketahui bahwa semua itu akan musnah, seiring waktu berjalan
aku teramat mencintaimu, sayang. bukan sebab ini kabisat pertama kita. sebab, kamu tak hanya langka seperti kabisat, yang tak banyak orang punyai kesetiaan yang sama dalam menanti kehadirannya. kamu, serupa janji yang kuselipkan di jemari manis ketika fajar memerahkan pipiku. kamu, serupa lukisan yang kupajang di dalam ruang tamu rumah masa depanku. kamu tak hanya indah, sayang, kamu itu lebih dari indah :*
terimakasih untuk keajaiban yang Allah ciptakan hari ini dengan menghadirkan kamu sebagai perantaranya. aku sayang kamu. bolehkah aku cantumkan namamu disini, Paradita Winenda Aditama? iya, disini, di kalender hatiku, tepat dibawah angka kabisat itu :*
Sunday, February 26, 2012
Pembodohan
"Mungkin kepulan asapnya telah habis
semenjak merah anyir menelan habis bibir kerasnya
Mungkin juga perutnya telah berganti isi
semenjak kuhunjamkan siletku tepat di dadanya"
Kali keberapa tubuhmu terpelanting
Sebab beriak tak tandai adanya isi
Pekat seperti mendung, mana bisa kau mematut diri
Sekadar memuasalkan gelap, ternyata basabasi
Ah, tumpahkan sajalah isi perutmu itu
Lagipula, untuk apa kau gemar mengoleksi kembung? Bodoh!
Friday, February 3, 2012
Gerimis Februari
Februari merintik
suguhkan kerelam lampau
yang justru dirasai gundah
dan tak lekas capai selansir
bergejolak mematut dirinya
dan rupanya enggan
merangkul sekilas kehendak
dalam rahimnya yang hangat
direbakannya rindu semilir
kepada angan yang membumbung
sepintas tatap bertajuk mesra
ceritakan harapan milik sesiapa
satu per satu berurutan
meski nadanya sumbang
Februari gerimis
ketika April bercumbu mesra dengan Juli
matanya memendam tangis
(Februari - 2012)
suguhkan kerelam lampau
yang justru dirasai gundah
dan tak lekas capai selansir
bergejolak mematut dirinya
dan rupanya enggan
merangkul sekilas kehendak
dalam rahimnya yang hangat
direbakannya rindu semilir
kepada angan yang membumbung
sepintas tatap bertajuk mesra
ceritakan harapan milik sesiapa
satu per satu berurutan
meski nadanya sumbang
Februari gerimis
ketika April bercumbu mesra dengan Juli
matanya memendam tangis
(Februari - 2012)
Wednesday, February 1, 2012
Kidung Cemburu
semula berkarib gelisah
tak sempat menafsirkan redup
pun kelak diibaratkan lentera
menyulut
mengecam
kuarsa yang dikekang
sudutsudut kedap suara
jikalau kakikaki malam merenggutmu, tuan
dan tak sempat
tuturkan gurat keyakinan
bergegaslah merajuk
rembulan yang sederhana
untuk sekerat pintamu
akan dipahaminya
wahai tuan
pemilik binar menghangatkan
kunjung meraup fajar
tak apalah
asal segera menyirna
dan lekaslah pulang menggandeng fajar
biarkan merahnya
menyeduh ringkih
cemburu ini
untuk rembulan yang mengagumimu
(Februari - 2012)
tak sempat menafsirkan redup
pun kelak diibaratkan lentera
menyulut
mengecam
kuarsa yang dikekang
sudutsudut kedap suara
jikalau kakikaki malam merenggutmu, tuan
dan tak sempat
tuturkan gurat keyakinan
bergegaslah merajuk
rembulan yang sederhana
untuk sekerat pintamu
akan dipahaminya
wahai tuan
pemilik binar menghangatkan
kunjung meraup fajar
tak apalah
asal segera menyirna
dan lekaslah pulang menggandeng fajar
biarkan merahnya
menyeduh ringkih
cemburu ini
untuk rembulan yang mengagumimu
(Februari - 2012)
Monday, January 23, 2012
Lekas Sebelum Berujung
bersemayam menyusun katakata
dilompatinya takdir di jendela
abaikan kuasa di balik pintu
kemudian langit memainkan melodi sendu
sesaat setelah memasuki beranda
penuh semburat
akibat bercak mengendus lumpur
diterjang deras yang mengguyur
riak hujan buruburu menepis kabar
memudarkan muasal warna jingga
yang kakinya tak sempat mencium tanah
bekas singgahan julurjulur api langit
lekas, mengalirlah ke muasal hulu
dan genangi kesunyisenyapan waktu
lekas, pasti bergegas ranum
sebelum jengah merangkak ke hilir
segera kuketas khawatir ini
dan kau
lekas beranjak sebelum berujung
---
"sayangku, aku tak mungkin beranjak kemanapun. disinilah tempatku untuk berpijak. iya disini, di segenggam cita-citamu yang berbalut harapan dan kepercayaan. disanalah aku akan abadi"
(Januari - 2012)
dilompatinya takdir di jendela
abaikan kuasa di balik pintu
kemudian langit memainkan melodi sendu
sesaat setelah memasuki beranda
penuh semburat
akibat bercak mengendus lumpur
diterjang deras yang mengguyur
riak hujan buruburu menepis kabar
memudarkan muasal warna jingga
yang kakinya tak sempat mencium tanah
bekas singgahan julurjulur api langit
lekas, mengalirlah ke muasal hulu
dan genangi kesunyisenyapan waktu
lekas, pasti bergegas ranum
sebelum jengah merangkak ke hilir
segera kuketas khawatir ini
dan kau
lekas beranjak sebelum berujung
---
"sayangku, aku tak mungkin beranjak kemanapun. disinilah tempatku untuk berpijak. iya disini, di segenggam cita-citamu yang berbalut harapan dan kepercayaan. disanalah aku akan abadi"
(Januari - 2012)
Saturday, January 14, 2012
Aku menyebut ini "entah"
Aku menyebut ini "entah". Entah kenapa batin ini sangat nyaman dengan kondisi seminggu yang jauh dari rasa rindu. Entah kenapa mata ini begitu biasa saja ketika menatap layar ponsel tanpa hiasan pesan yang datang darinya, kekasihku. Aku menyebut ini "entah". Entah kenapa ada gejolak rasa yang menyatakan bahwa inilah cara kita untuk saling mencipta rindu. Aku paham jika kamu sudah lupa bagaimana cara mencipta rindu yang selalu membuat tubuhmu bergetar, hatimu resah, dan pikiran yang tak tenang. Aku juga tak bisa mengelak jika kamu berkata bahwa jenuh tengah merasuki sisa-sisa otak yang penat akibat kesenjangan kita. Bahwa sebenarnya rindu seperti itu sangat ingin kamu alami lagi. Bukankah ketika malam mengetuk langit kata "rindu" itu selalu terucap dari bibirmu? Bukankah rindu itu harusnya tak perlu dikekang dengan sebuah pertemuan?
Aku menyebut ini "entah". Dua puluh empat jam aku memalingkan tatapan dari sekelumit hal yang melukiskan tentang kamu. Melenguhkan napas perlahan ketika mendapati bayangmu mulai melintasi pikiranku. "Hey, tolong hentikan!! Aku sedang tidak ingin merasakan rindu" begitu ucapku. Entah kenapa jemariku mendadak amnesia memainkan frasa-frasa yang sebelumnya ia tak perlu berpikir ulang untuk menguntaikannya. Apa lagi kalau bukan membuat sajak untukmu, iya kamu, kekasihku. Tak henti-hentinya bibir ini menggeletuk angkuh pada sekotak langit yang dingin dengan beribu takdir yang kerap membisu. Hanya ketukan gerimis yang menggema, selain itu alpha. Mungkin genangan air hujan diluar menantimu untuk menyibakkan separuh kejenuhan.
Tolong, berhentilah berkata "entah". Meski aku enggan untuk memberimu alasan mengapa aku tak ingin meninggalkanmu. Gerimis ini terlalu sendu jika harus kupasangkan dengan senja. Rintik yang tak seberapa ini tak boleh mendekap kejinggaan setiamu. Aku beranjak dari entah yang selalu kuteriakkan dalam batinku, dalam kosongku. Dan kini, telah kuhadirkan kembali sosokmu. Pelengkap kebahagiaanku. Aku berjanji akan menghapus "entah" dari kesanggupanku. Mungkin aku segera menjejakkan kakiku pada bukit rindu yang disana telah berdiri sosokmu yang siap untuk memelukku, kemudian.
***
Untuk "entah" yang selalu terucap dari bibirmu, aku mencoba untuk menghapusnya malam ini, mungkin dengan bibirku
Teruntuk: Kekasihku
(Januari - 2012)
Aku menyebut ini "entah". Dua puluh empat jam aku memalingkan tatapan dari sekelumit hal yang melukiskan tentang kamu. Melenguhkan napas perlahan ketika mendapati bayangmu mulai melintasi pikiranku. "Hey, tolong hentikan!! Aku sedang tidak ingin merasakan rindu" begitu ucapku. Entah kenapa jemariku mendadak amnesia memainkan frasa-frasa yang sebelumnya ia tak perlu berpikir ulang untuk menguntaikannya. Apa lagi kalau bukan membuat sajak untukmu, iya kamu, kekasihku. Tak henti-hentinya bibir ini menggeletuk angkuh pada sekotak langit yang dingin dengan beribu takdir yang kerap membisu. Hanya ketukan gerimis yang menggema, selain itu alpha. Mungkin genangan air hujan diluar menantimu untuk menyibakkan separuh kejenuhan.
Tolong, berhentilah berkata "entah". Meski aku enggan untuk memberimu alasan mengapa aku tak ingin meninggalkanmu. Gerimis ini terlalu sendu jika harus kupasangkan dengan senja. Rintik yang tak seberapa ini tak boleh mendekap kejinggaan setiamu. Aku beranjak dari entah yang selalu kuteriakkan dalam batinku, dalam kosongku. Dan kini, telah kuhadirkan kembali sosokmu. Pelengkap kebahagiaanku. Aku berjanji akan menghapus "entah" dari kesanggupanku. Mungkin aku segera menjejakkan kakiku pada bukit rindu yang disana telah berdiri sosokmu yang siap untuk memelukku, kemudian.
***
Untuk "entah" yang selalu terucap dari bibirmu, aku mencoba untuk menghapusnya malam ini, mungkin dengan bibirku
Teruntuk: Kekasihku
(Januari - 2012)
Tuesday, January 10, 2012
Prahara Hati
kubutakan jalanmu
biarkan nalarku menuntun
sepakat menyisir luka
tanpa aroma
yang kutatar dalam memoar sepinggan
dan sebelumnya
telah kusibak agar tak mengepul
ingin kurengkuh kemudian
sepotong senja
akibat bualanbualan sore
yang merekah tanpa pesan
menjejak tanpa sembilu
dalam bisu menanti gerhana
kukembalikan waktu asalku
yang hampir meretakkan
sebuah komitmen
prahara selanggan kita
di sekujur hati
sempat membising menggaung
hingga terkutuk oleh saduran riak hujan
terbatabata kau hembuskan
sisa napas kemarin
oleh karna ketiadaan itu
jejakmu kian membekas meranggas
dan perlahan luruh
di tepi amarah
membinar sayu kelopaknya
dahannya
akarnya
sungguhpun egomu enggan untuk bergulir
'kan kunjung menguap
namun kusiap kehilangan
ketika ikhlas membebat hati
biarkan ia merengkuh pekat
dan lenyap
meski prahara s'lamanya dihati
***
(aku bodoh jika aku belum siap kehilanganmu)
(Januari - 2012)
biarkan nalarku menuntun
sepakat menyisir luka
tanpa aroma
yang kutatar dalam memoar sepinggan
dan sebelumnya
telah kusibak agar tak mengepul
ingin kurengkuh kemudian
sepotong senja
akibat bualanbualan sore
yang merekah tanpa pesan
menjejak tanpa sembilu
dalam bisu menanti gerhana
kukembalikan waktu asalku
yang hampir meretakkan
sebuah komitmen
prahara selanggan kita
di sekujur hati
sempat membising menggaung
hingga terkutuk oleh saduran riak hujan
terbatabata kau hembuskan
sisa napas kemarin
oleh karna ketiadaan itu
jejakmu kian membekas meranggas
dan perlahan luruh
di tepi amarah
membinar sayu kelopaknya
dahannya
akarnya
sungguhpun egomu enggan untuk bergulir
'kan kunjung menguap
namun kusiap kehilangan
ketika ikhlas membebat hati
biarkan ia merengkuh pekat
dan lenyap
meski prahara s'lamanya dihati
***
(aku bodoh jika aku belum siap kehilanganmu)
(Januari - 2012)
Sunday, January 8, 2012
Singgasana Baru
menerjemahkan tiap ulasanmu
kutemui singgasana baru
membenam selaksa
terbitkan aksaraaksara gairah
tersulut untuk geram
pada sesanggupanmu
kala tetapak melintas
serinai di muara baru
yaitu rindu kelu
teriakkan rasa
geletup awan memendar pelan
akankah abuabu berkuasa
pada siang yang langsat
agar ia tersipu pada angkuhnya
singgasana yang baru
Tuhan bersedia titipkan ragumu
di sepetak kalbu
tanpa luruh
***
singgasana yang baru di hatimu, untukku :) ♡
(Januari - 2012)
kutemui singgasana baru
membenam selaksa
terbitkan aksaraaksara gairah
tersulut untuk geram
pada sesanggupanmu
kala tetapak melintas
serinai di muara baru
yaitu rindu kelu
teriakkan rasa
geletup awan memendar pelan
akankah abuabu berkuasa
pada siang yang langsat
agar ia tersipu pada angkuhnya
singgasana yang baru
Tuhan bersedia titipkan ragumu
di sepetak kalbu
tanpa luruh
***
singgasana yang baru di hatimu, untukku :) ♡
(Januari - 2012)
Thursday, January 5, 2012
Perjalanan Menuju Surgamu
kudapati batu terjal
meninggi lalu berkelok
padang rumput telah binasa
kakikaki beton menjulang
nyiur pelok yang teduh
bising kotak baja menggaung
di perjalanan menuju surgamu
acuhkan terik yang bengis
singkirkan seribu bias penghalang
langkah berkemas pada roda waktu
bisik musim tak lagi kuhirau
meski angin embuskan kesakitan
aku tetap melangkah pergi
di perjalanan menuju surgamu
siang masih enggan beranjak
aku terengkuh dalam pelukan hangat
dan bibirmu mendarat di keningku
seketika kukenal itu sebagai pinta
sepakat tak mau pergi
sepakat tak ingin beringkar
demikian jumpa lekas mengenang
seteguk kemudian beralih pergi
di perjalanan menuju surgamu
(Januari - 2012)
meninggi lalu berkelok
padang rumput telah binasa
kakikaki beton menjulang
nyiur pelok yang teduh
bising kotak baja menggaung
di perjalanan menuju surgamu
acuhkan terik yang bengis
singkirkan seribu bias penghalang
langkah berkemas pada roda waktu
bisik musim tak lagi kuhirau
meski angin embuskan kesakitan
aku tetap melangkah pergi
di perjalanan menuju surgamu
siang masih enggan beranjak
aku terengkuh dalam pelukan hangat
dan bibirmu mendarat di keningku
seketika kukenal itu sebagai pinta
sepakat tak mau pergi
sepakat tak ingin beringkar
demikian jumpa lekas mengenang
seteguk kemudian beralih pergi
di perjalanan menuju surgamu
(Januari - 2012)
Monday, January 2, 2012
Halaman di Surat Kabar Itu
tiga hari yang lalu
kubaca tulisanmu
kubayangkan gerakgerik penamu
pasti kautulis itu dengan senyum berpeluh
sebab tiap huruf adalah kerja kerasmu
berharap semua orang
terkesima dengan suguhan darimu
tetapi maaf
itu tidak berlaku untukku
ternyata rasanya hambar
mungkin sejak saat itu pula
aku mulai membenci
'halaman' di surat kabar itu
(Januari - 2012)
kubaca tulisanmu
kubayangkan gerakgerik penamu
pasti kautulis itu dengan senyum berpeluh
sebab tiap huruf adalah kerja kerasmu
berharap semua orang
terkesima dengan suguhan darimu
tetapi maaf
itu tidak berlaku untukku
ternyata rasanya hambar
mungkin sejak saat itu pula
aku mulai membenci
'halaman' di surat kabar itu
(Januari - 2012)
Friday, December 30, 2011
Dan Karam
menemuimu di pintu jenuh
sempat kukira sebuah pertanda
entah perihal apa kian mengerdil
kau berujar paksa
terkeluh
mungkin segera karam di tepi mendung
langit tempat pertemuan kita
kukira akan sirna
tersebab kelopaknya
meluruh bersama rintik
yang jatuh tepat di pipiku
ucapkan salam
terkunjung pada larut nan pekat
siksa rindu telah memahat luka
cepatcepat aku pulang
lalu bersandar di dadamu
malam yang hening
isakku memecah sepi
dan bulan mengerling iba
namun kau tetap tak ingin singgah
pelanpelan aku akan lenyap
dan karam
(Desember - 2011)
sempat kukira sebuah pertanda
entah perihal apa kian mengerdil
kau berujar paksa
terkeluh
mungkin segera karam di tepi mendung
langit tempat pertemuan kita
kukira akan sirna
tersebab kelopaknya
meluruh bersama rintik
yang jatuh tepat di pipiku
ucapkan salam
terkunjung pada larut nan pekat
siksa rindu telah memahat luka
cepatcepat aku pulang
lalu bersandar di dadamu
malam yang hening
isakku memecah sepi
dan bulan mengerling iba
namun kau tetap tak ingin singgah
pelanpelan aku akan lenyap
dan karam
(Desember - 2011)
Wednesday, December 28, 2011
Koma
Nyeri menjalar ke seluruh tubuh.
Menghantam jantung, mungkin melukai.
Napas sudah tak bersisa lagi.
Sempit untuk sekadar berhembus.
Dingin menelusup masuk untuk membekukan.
Segalanya, termasuk memori.
Tubuhku disini entah jiwaku.
Seperti menerawang tanpa arah.
Kutatap sekeliling, dimana aku?
Rupanya hanya sepenggal mimpi tak berjudul.
Tetapi, mengapa tubuhku masih saja kaku?
Tiada daya, tiada rupa.
Mati rasa disini.
Menyambut separuh roh ku yang terpisah.
Dan juga hatiku.
Yang terbawa separuh olehmu.
Tubuhku mengatup, kemudian layu.
Siap meraih titik akhir dari segalanya.
Meski kini masih berhenti sejenak pada koma.
(Desember - 2011)
Menghantam jantung, mungkin melukai.
Napas sudah tak bersisa lagi.
Sempit untuk sekadar berhembus.
Dingin menelusup masuk untuk membekukan.
Segalanya, termasuk memori.
Tubuhku disini entah jiwaku.
Seperti menerawang tanpa arah.
Kutatap sekeliling, dimana aku?
Rupanya hanya sepenggal mimpi tak berjudul.
Tetapi, mengapa tubuhku masih saja kaku?
Tiada daya, tiada rupa.
Mati rasa disini.
Menyambut separuh roh ku yang terpisah.
Dan juga hatiku.
Yang terbawa separuh olehmu.
Tubuhku mengatup, kemudian layu.
Siap meraih titik akhir dari segalanya.
Meski kini masih berhenti sejenak pada koma.
(Desember - 2011)
Seperti Bintang
Yang tak kusadari, berawal dari gelap.
Ia pekat.
Serasa hampa dan alpha.
Belum lagi dingin hingga membuatku menggigil.
Ah, sejak awal aku memang membenci malam.
Meski tirai gerimis menggenangi kelamnya.
Tetap saja aku membenci.
Dan malam itu kau tersenyum menawan.
Ada frasa yang sulit untuk dijabarkan.
Tampak asing.
Dengan segumpal temaram cahaya.
Aku tertegun sejenak.
Kerlip itu...
Akankah kau muasalnya?
(Desember - 2011)
Ia pekat.
Serasa hampa dan alpha.
Belum lagi dingin hingga membuatku menggigil.
Ah, sejak awal aku memang membenci malam.
Meski tirai gerimis menggenangi kelamnya.
Tetap saja aku membenci.
Dan malam itu kau tersenyum menawan.
Ada frasa yang sulit untuk dijabarkan.
Tampak asing.
Dengan segumpal temaram cahaya.
Aku tertegun sejenak.
Kerlip itu...
Akankah kau muasalnya?
(Desember - 2011)
Subscribe to:
Posts (Atom)