" mari duduk bersebelahan denganku
izinkanku menyibak rambut yang menutupi telingamu
ingin kubisikkan sesuatu, dengarkanlah
ceritakan padaku tentang langitmu
segera padamkan lentera dan rasakan pelukan malam
untuk kepastian yang tak rupa wujudnya
maka berbaik hatilah kelak
pada keluh yang menempa sendi-sendi risaumu
jangan tanyakan kabarku, segera hangus
seperti selembar potret yang lusuh ini
kerap kunamai ia patahan luka semu
pun aku tak sanggup lagi pulang untukmu
meretas waktu tanpa cemas lagi
berganti usang asal bergegas temukan penyembuh
ketika lengah menyergap kepunyaan kita
tunjukkan padaku raut-raut penyesalan
dan katakan genap pada bilangan ganjil
usah hentikan dusta, terlanjur lara kaupelihara
sertakan jejak yang membekas
dan kisah kita kan kubawa pulang
mari duduk bersebelahan denganku
dan ceritakan harimu tanpa aku"
(Januari - 2014)
ditulis ketika menjelang tidur semalam,
sambil mengingat seorang sahabat yang pergi meninggalkan.
lalu memaksakan diri untuk bersahabat dengan yang lain,
meskipun kini ia telah kembali,
namun keadaan tak bisa berbalik seperti dulu.
Showing posts with label sajak. Show all posts
Showing posts with label sajak. Show all posts
Saturday, January 11, 2014
Wednesday, August 29, 2012
ketika itu ...
ketika sepasang kaki mengenang jejak yang tertinggal di bangku taman
ketika angin mencumbu mesra ranting-ranting tak berdaya
ketika sudah bukan senja lagi yang kerap dinanti maghrib
ketika yang tersurat justru sulit untuk diterjemahkan
ketika angin mencumbu mesra ranting-ranting tak berdaya
ketika sudah bukan senja lagi yang kerap dinanti maghrib
ketika yang tersurat justru sulit untuk diterjemahkan
ketika benih-benih tumbuh tanpa melukai gersang
ketika hening merangkul kebisingan lalu lalang
ketika belenggu ciptakan jarak disamping kita
ketika belenggu ciptakan jarak disamping kita
ketika peribahasa menjenguk ucapan kosong
ketika itu ...
(Adinda Retna Pradini, 2012)
Thursday, August 23, 2012
waktu mendewasakan kita
masih saja berpikir, aku telah kehilanganmu.
pun langkah demi langkah menghapuskan sunyi.
aku masih berpikir, kau tidak akan kembali.
yang masih belum kupahami bahwa waktu telah mendewasakan kita.
aku sangat merindukanmu, sahabatku.
Tuesday, August 21, 2012
sajak perpisahan
kian menepi
terkikis masa lalu
akibat ketaksanggupan
himpun sebait luka tersirat
pada puisi perpisahan
dan berseteru
di balik patahan asa
kian memudarkan
jejak keberangkatan
dan tak temui ujung sesudahnya
petang berhembus kabar
katamu hujan tak segan bertandang kemari
kalau saja aku membenci senja
sudah kupulangkan ia sesegera
sambil tengadahkan ragu diatasnya
kian senyap
sesaat karib leluasa singgah
di bilik mata yang lunar
takkupadamkan temaram lilinmu
hingga sore
masih saja abu-abu
dirajut jemari mendung
kian hengkang dari ragaku
jiwa kita yang sebelumnya satu
aku dan kamu
sesembab embun di pipi ranting
yang tertahan pilu dalam rongganya
rumahmu tak lagi aku
pijakmu tak lagi duniaku
di penghujung nisan tua
kusematkan sebuah kalimat:
"kukira kau teman selamanya"
terkikis masa lalu
akibat ketaksanggupan
himpun sebait luka tersirat
pada puisi perpisahan
dan berseteru
di balik patahan asa
kian memudarkan
jejak keberangkatan
dan tak temui ujung sesudahnya
petang berhembus kabar
katamu hujan tak segan bertandang kemari
kalau saja aku membenci senja
sudah kupulangkan ia sesegera
sambil tengadahkan ragu diatasnya
kian senyap
sesaat karib leluasa singgah
di bilik mata yang lunar
takkupadamkan temaram lilinmu
hingga sore
masih saja abu-abu
dirajut jemari mendung
kian hengkang dari ragaku
jiwa kita yang sebelumnya satu
aku dan kamu
sesembab embun di pipi ranting
yang tertahan pilu dalam rongganya
rumahmu tak lagi aku
pijakmu tak lagi duniaku
di penghujung nisan tua
kusematkan sebuah kalimat:
"kukira kau teman selamanya"
Subscribe to:
Posts (Atom)

