Saturday, April 27, 2013

(mencoba) pulang

beranjak meninggalkan setapak jalan ini
setelah lama berdiri diam terpaku
sangsi tak kunjung sadarkan
tamparan keras tak mengena
giliran petang menjamu sore
telapak dusta kerap bersembunyi
aku (mencoba) pulang
temui teduh dalam jiwa
yang kerap kudapati tunggal
selalu satu
berapapun lama rotasi bulan
dan dalam penantian tak singkat
aku bergegas menyeduh ingatan
tentang rupa tak asing
acapkali terpikat
kadang-kadang memuak
tolong antarkan
aku ingin pulang

(April - 2013)

keberadaanmu

keberadaanmu
mengisi sekaligus mengosongkan
apa yang menjadikan perkara
terlalu sukar dicerna
dan bait-bait yang kuukir
anggap saja sebentuk khilaf

(Februari - 2013)

Tuesday, September 4, 2012

memorabilia

Senandung memorabilia. Tertuang pada gelas-gelas cantik yang berisi kenangan manis. Hangat merebak pada dinding kaca yang terkepul uapan. Sembari kuaduk agar makin melarutkan kisah klasik. Memorabilia.

Memorabilia terus bergulir, gantikan kesekian lembar cerita yang mulai usang. Krek! Lembar demi lembar telah kusobek.

Memorabilia masa putih biru. Serasa ada yang hinggap namun tak mau terbang kembali. Aku terngiang oleh sayup ilalang, terhembus akibat luapan angin. Hatiku masih tertinggal disini, tepat enam tahun silam.

Memoar menghempaskan tubuhku, kembali ke keadaan riuh waktu itu. Dengan bola voli di tangan kiri, langit tersenyum manis kepada kami. Teriknya menguliti, namun kami tak peduli. Di tengah lapangan yang berdebu, tanganku terayuh begitu saja. Kemudian ringan bebanku.

Memori di saku rok pendekku. Kubelikan dua bungkus snack berbalut plastik kuning. Renyahnya tak bisa tergantikan oleh tawa kami yang jahil. Bukan satu atau dua kali, tak terhitung. Setiap pamit ke kamar kecil, lebih tepatnya.

Memori di pojok kelas tingkat, atau di sekitar aula sekolah. Memori tentangmu yang labil. aku hampir tak mengenali lagi degupnya, sudah terlalu lama. Mungkin memudar.

Memori di koridor ini, yang memanjang disekujur paving-paving yang rapih. Bekas jejakku sudah terlalu uzur. Termakan tahun. Tiada lagi bekas sepatu fantovelku yang manis, atau tumpahan saos merah dari cilok yang pernah tertumpah dulu. Semuanya telah hengkang dari tempat ini. Satu per satu pergi.

Dan sekali lagi, kuhela napas dengan berat. Lima, enam langkah dari pijakku kini telah berdiri aku dengan tegapnya. Memimpin upacara hari senin. Degupnya tak beraturan. Aku bangga sekaligus grogi. Ah, rupanya enam tahun silam di lapangan ini. Dengan sigap kuhentakkan dua langkah kakiku. Hahahaha. Lamunan itu berhasil menggerakkan kakiku dengan sendirinya. Aku benar-benar rindu.

Kembali kupandang langit. Kombinasi biru tua dan sedikit jingga yang tenang. Kulangkahkan kaki meninggalkan tempat ini sekaligus memoar di dalamnya. Sampai jumpa kembali kawan-kawan klasikku, doaku akan terus mengiringi langkah sukses kalian semua. Jangan pernah lupakan kenangan disini, masa putih biru kita yang menyenangkan. Kemudian senandung lagu teriring dalam benak, hampir menjatuhkan air mataku dari tempat persembunyiannya.

"sampai jumpa kawanku
semoga kita selalu
menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan". 

terinspirasi dari lagu: Sebuah Kisah Klasik - Sheila On 7

Friday, August 31, 2012

kata kebab kepada donat

ini masih aku, nat
terdahulu hanya membuat letih
aku pulang dari kalian
tempat beranjak yang bersinar
ini kuas milikku
simpan baik-baik
biarlah aku menjadi kusam

***

ini masih aku, nat
cawan petri milikku masih kosong
barusan kutumpah dalam wastafel
tunggu sebentar,
aku lupa menyungkup lilin
terlanjur kukepingkan ia
menjadi amorf-amorf kecil nan mengkilap

***

ini masih aku, nat
dengan mata menutup sebelah
lingkarkan dua jemari
sepakati candaan kita
dan kantongi segenggam tawa
terbahak-bahak
aku menyerah sudah

***

ini masih aku, nat
meski kau ganti pijakan
menarik kalimat ironi di lidahku
benak yang terlalu merendah
demi sebuah aku, di pengakuanmu
aku kehilanganmu, nat
mungkin telah pudar

"ini masih aku, nat. aku rindu kita"

Wednesday, August 29, 2012

my mood today


ketika itu ...

ketika sepasang kaki mengenang jejak yang tertinggal di bangku taman
ketika angin mencumbu mesra ranting-ranting tak berdaya
ketika sudah bukan senja lagi yang kerap dinanti maghrib
ketika yang tersurat justru sulit untuk diterjemahkan
ketika benih-benih tumbuh tanpa melukai gersang
ketika hening merangkul kebisingan lalu lalang
ketika belenggu ciptakan jarak disamping kita
ketika peribahasa menjenguk ucapan kosong

ketika itu ...
separuhku alpha, dibawa pergi olehmu.



(Adinda Retna Pradini, 2012)

Thursday, August 23, 2012

waktu mendewasakan kita


masih saja berpikir, aku telah kehilanganmu.
pun langkah demi langkah menghapuskan sunyi.
aku masih berpikir, kau tidak akan kembali.
yang masih belum kupahami bahwa waktu telah mendewasakan kita.

aku sangat merindukanmu, sahabatku.

beberapa kali


beberapa kali kuputuskan untuk menggulung langit
menggilas bintang sesebaran beserta kemilau sabit
tak peduli meski aku dikoyak taring hujan, meski sakit
ruang jiwa yang kau tawarkan, hanya buat nafasku menyempit

beberapa kali aku sempat mengubur harapan
dengan takdir di pelukan, kenyataan pahit dalam genggaman
meski seringkali aku direnggam kesunyian
relung yang kian menepis satu per satu kepastian

beberapa kali aku ingin menyerah begitu saja
menanggalkan separuh mimpiku pada langit yang merona
hampir terpaut habis oleh frasa sedemikian rupa
kan kupersilakan pagi merenggut asa yang kupunya

Tuesday, August 21, 2012

sajak perpisahan

kian menepi
terkikis masa lalu
akibat ketaksanggupan
himpun sebait luka tersirat
pada puisi perpisahan
dan berseteru
di balik patahan asa
kian memudarkan
jejak keberangkatan
dan tak temui ujung sesudahnya

petang berhembus kabar
katamu hujan tak segan bertandang kemari
kalau saja aku membenci senja
sudah kupulangkan ia sesegera
sambil tengadahkan ragu diatasnya

kian senyap
sesaat karib leluasa singgah
di bilik mata yang lunar
takkupadamkan temaram lilinmu
hingga sore
masih saja abu-abu
dirajut jemari mendung
kian hengkang dari ragaku
jiwa kita yang sebelumnya satu
aku dan kamu

sesembab embun di pipi ranting
yang tertahan pilu dalam rongganya
rumahmu tak lagi aku
pijakmu tak lagi duniaku
di penghujung nisan tua
kusematkan sebuah kalimat:
"kukira kau teman selamanya"

Thursday, August 16, 2012

pundi waktu kebersamaan kita

pundi-pundi waktu yang pernah kita jaga, yang kita peluk agar tak seorangpun mencuri waktu kita, waktu bersama kita. masih ingatkah kau?

di belantara kenyataan yang masih setia dengan kesakitan-kesakitan, kita berjanji akan senantiasa merengkuh senja dengan jemari kita yang saling menggenggam. masih ingatkah kau?

puncak keresahan di ujung kelopak mata yang kaubiaskan, mengaliri lekuk rerona pipimu yang buncah, kita saling menguatkan. masih ingatkah kau?

memilin gerimis sendu seolah kita adalah titisan bianglala. tak peduli apakah itu milikku, milikmu, milik kita. yang kuingat, kita terhanyut dalam suasana bahagia. masih ingatkah kau?

*
rupa-rupa gerimis sendu, wajahmu. kini terlukis pelangi disekilas senyummu. kita gumamkan syair senja, kesukaanmu. cokelat oranye yang manis, seperti secangkir teh yang kuseduh pagi ini.

bagiku, kawan. kebersamaan abadi akan selalu melekat dalam memori. aku, dia dan kamu, persahabatan manis yang tetap akan selalu kusyukuri kala tawamu tak lagi tercipta sebab kami. :)