tiga hari yang lalu
kubaca tulisanmu
kubayangkan gerakgerik penamu
pasti kautulis itu dengan senyum berpeluh
sebab tiap huruf adalah kerja kerasmu
berharap semua orang
terkesima dengan suguhan darimu
tetapi maaf
itu tidak berlaku untukku
ternyata rasanya hambar
mungkin sejak saat itu pula
aku mulai membenci
'halaman' di surat kabar itu
(Januari - 2012)
Showing posts with label benci kopi. Show all posts
Showing posts with label benci kopi. Show all posts
Monday, January 2, 2012
Monday, November 28, 2011
*faumsiga*
Pada pelupuk kisah yang masih hangat.
Di tempat ini.
Tersimpan sebuah melodi.
Nadanada mengalun lirih.
Membungkam apa yang tersirat.
Untuk kata yang tak sempat terucap.
Terbayang enam bulan silam.
Mengejar kepastian tak runtut.
Ditemani secangkir kopi hitam.
Suguhan hangat untuk sore yang beku.
Melepas dahagaku secara paksa.
Lalu berkenang diri lewat ingatan.
Luruh dan menggenangi syairku.
Dalam lamunan yang makin rapuh.
Secarik harapan masih tersimpuh.
Semoga cahaya itu tak lapuk.
Meski senja bergegas menjemput.
Perempuan lembut bermata teduh.
Aku hirup dalamdalam.
Dustamu yang menjejali atmosferku.
Hingga aromanya memperingatkan tubuhku.
Dan menusuknusuk sisa memoar luka.
Meski kopimu tak sepahit kenanganku.
Kau tetap saja mengujar pahit.
Tentu, seteguk kepekatan bubuk hitam menggelora bersama lidahmu...
...yang pahit.
*tentang sebuah tempat pahit bersama kenangan yang tak kalah pahitnya*
note: *faumsiga* adalah kependekan dari nama sebuah tempat
(November - 2011)
Di tempat ini.
Tersimpan sebuah melodi.
Nadanada mengalun lirih.
Membungkam apa yang tersirat.
Untuk kata yang tak sempat terucap.
Terbayang enam bulan silam.
Mengejar kepastian tak runtut.
Ditemani secangkir kopi hitam.
Suguhan hangat untuk sore yang beku.
Melepas dahagaku secara paksa.
Lalu berkenang diri lewat ingatan.
Luruh dan menggenangi syairku.
Dalam lamunan yang makin rapuh.
Secarik harapan masih tersimpuh.
Semoga cahaya itu tak lapuk.
Meski senja bergegas menjemput.
Perempuan lembut bermata teduh.
Aku hirup dalamdalam.
Dustamu yang menjejali atmosferku.
Hingga aromanya memperingatkan tubuhku.
Dan menusuknusuk sisa memoar luka.
Meski kopimu tak sepahit kenanganku.
Kau tetap saja mengujar pahit.
Tentu, seteguk kepekatan bubuk hitam menggelora bersama lidahmu...
...yang pahit.
*tentang sebuah tempat pahit bersama kenangan yang tak kalah pahitnya*
note: *faumsiga* adalah kependekan dari nama sebuah tempat
(November - 2011)
Tuesday, July 26, 2011
Dua Puluh sendok 'KOPI'
Dua Puluh sendok 'KOPI' untuk hari ini, Dua Puluh Enam Juli Dua Ribu Sebelas
Satu persatu kau tuang ke dalam cangkir
Perlahan tapi pasti
Untuk sendok kelimabelas, kau berhenti
Tertuang tanpa sengaja ke dalam cangkirmu, bubuk creamer
Meski hanya sedikit, nyatanya ia mampu merubah rasa kopimu
Namun kau memilih untuk menyingkirkan bubuk creamer dari kopimu
Kau lanjutkan kembali untuk kopi keenambelas, disana kau tak menuangkan susu kental manis
Untuk kopi ketujuhbelas, kau tak menambahkan apapun
Hingga kopi kesembilanbelas
Kau bilang kopi tak butuh gula
Kau bilang kopi selalu tampil apa adanya
Ia nyata pahit, karena ia tak pernah manis
Baiklah..
Kopi keduapuluh kini sudah pahit untukmu!!!!!!!!!!!!
Silahkan kau tuang air mendidih dan lekas kau teguk
Selamat menikmati "dua puluh sendok kopi" di dalam cangkirmu, kawan
Aku harap kau tetap pahit seperti ini
Pahit yang tak menyiksa serta legam yang tak pernah menoda
***
(Juli - 2011)
"untuk seorang kawan yang berbahagia di 26 Juli"
Satu persatu kau tuang ke dalam cangkir
Perlahan tapi pasti
Untuk sendok kelimabelas, kau berhenti
Tertuang tanpa sengaja ke dalam cangkirmu, bubuk creamer
Meski hanya sedikit, nyatanya ia mampu merubah rasa kopimu
Namun kau memilih untuk menyingkirkan bubuk creamer dari kopimu
Kau lanjutkan kembali untuk kopi keenambelas, disana kau tak menuangkan susu kental manis
Untuk kopi ketujuhbelas, kau tak menambahkan apapun
Hingga kopi kesembilanbelas
Kau bilang kopi tak butuh gula
Kau bilang kopi selalu tampil apa adanya
Ia nyata pahit, karena ia tak pernah manis
Baiklah..
Kopi keduapuluh kini sudah pahit untukmu!!!!!!!!!!!!
Silahkan kau tuang air mendidih dan lekas kau teguk
Selamat menikmati "dua puluh sendok kopi" di dalam cangkirmu, kawan
Aku harap kau tetap pahit seperti ini
Pahit yang tak menyiksa serta legam yang tak pernah menoda
***
(Juli - 2011)
"untuk seorang kawan yang berbahagia di 26 Juli"
Friday, July 15, 2011
AKU BENCI 'KOPI'!
Aku murka
Ketika secangkirmu tak cukup melenyapkan kegundahan
kutumpah ia ke lantai
Bukan, bukan yang di dalam cangkir itu, melainkan amarahku
Semburat bercecer tanpa terbendung garis tegas
Aku muak
Bahkan wangi parfummu lancang untuk menyeloroh paksa
Membekap tiap elegi puitis yang terlantun dalam senja
Tak ayal jika gestur wajahku kau koyak dengan lidahmu
Aku muntah
Atas kebusukanmu yang tersamar noda jahannam!
Perlu kuperjelas?
Baiklah..
AKU BENCI 'KOPI'!
Ketika secangkirmu tak cukup melenyapkan kegundahan
kutumpah ia ke lantai
Bukan, bukan yang di dalam cangkir itu, melainkan amarahku
Semburat bercecer tanpa terbendung garis tegas
Aku muak
Bahkan wangi parfummu lancang untuk menyeloroh paksa
Membekap tiap elegi puitis yang terlantun dalam senja
Tak ayal jika gestur wajahku kau koyak dengan lidahmu
Aku muntah
Atas kebusukanmu yang tersamar noda jahannam!
Perlu kuperjelas?
Baiklah..
AKU BENCI 'KOPI'!
Subscribe to:
Posts (Atom)