Wednesday, January 15, 2014

selembar kisah usang

selembar kisah usang dengan tepi melekuk
alinea-alinea yang tak runtutkan isinya
melepas titik dan koma di pertengahan kalimat
sadurkan jiwa penulis yang ringkih
pada tawa pagi yang mengejek
menenggelamkan rasa bersalah milikmu
dua, tiga kata setelahnyapun lenyap
berganti rindu-rindu, makin usang
dan cumbu-cumbu tak terpakai
labuh di binar matamu yang sore
tak mau lagi risaukan sudut geram
lantas kukenang sepatah pintamu
jadikan angan lalu kurapal dalam bunga tidur
pejalan-pejalan letih yang singgah
lekas kuhidangkan petang yang menyungging
bukan tak mau datangi hati
atas kehendakNya aku telah mematri janji

"ditulis di suatu sore yang tenang, diantara celoteh-celoteh tak berjudul dan ditemani playlist lagu-lagu."

(Januari - 2014)

where are you?

kini aku masih mencarinya. perjalanan sudah sampai hingga setengah cerita. aku menemukan banyak hal yang kusebut itu bahagia. namun, kuakui jika itu semua palsu. lagi-lagi aku menemukan topeng yang meyakinkan. hingga aku terlarut dan tak sadarkan diri. ada pula yang tega merusaknya tepat di depan mataku. aku bisa melihatnya dengan jelas bagaimana dia merusak itu semua. akupun turut musnah.

aku sadar telah dibodohi, meski mungkin mereka melakukannya secara tak sadar. paragrafpun tak sampai runtut selesaikan cerita di lembar kertasku. menghadapi kalimat retorika dan beberapa narasi deskriptif yang sumbang. aku pulang dengan segala tanya yang membungkam mulutku dengan tega. sesak meratapi bagian kosong memoar lampau. bahkan aku tak sanggup menggenapinya dengan pura-pura membenci.

penaku makin renta dan tak sanggup lagi tuangkan arti dalam segenggam celoteh bermakna. saat itu pula aku padam. mungkin aku sudah retak, menggugurkan tanya satu per satu hingga tak tersisa.

where are you, my true friend?

(Januari - 2014)

belenggu senja


Saturday, January 11, 2014

mari duduk bersebelahan denganku

" mari duduk bersebelahan denganku
izinkanku menyibak rambut yang menutupi telingamu
ingin kubisikkan sesuatu, dengarkanlah
ceritakan padaku tentang langitmu
segera padamkan lentera dan rasakan pelukan malam
untuk kepastian yang tak rupa wujudnya
maka berbaik hatilah kelak
pada keluh yang menempa sendi-sendi risaumu
jangan tanyakan kabarku, segera hangus
seperti selembar potret yang lusuh ini
kerap kunamai ia patahan luka semu
pun aku tak sanggup lagi pulang untukmu
meretas waktu tanpa cemas lagi
berganti usang asal bergegas temukan penyembuh
ketika lengah menyergap kepunyaan kita
tunjukkan padaku raut-raut penyesalan
dan katakan genap pada bilangan ganjil
usah hentikan dusta, terlanjur lara kaupelihara
sertakan jejak yang membekas
dan kisah kita kan kubawa pulang
mari duduk bersebelahan denganku
dan ceritakan harimu tanpa aku"
(Januari - 2014)
ditulis ketika menjelang tidur semalam,
sambil mengingat seorang sahabat yang pergi meninggalkan.
lalu memaksakan diri untuk bersahabat dengan yang lain,
meskipun kini ia telah kembali,
namun keadaan tak bisa berbalik seperti dulu.

Thursday, January 9, 2014

singgasana baru

menerjemahkan tiap ulasanmu
kutemui singgasana baru
membenam selaksa
terbitkan aksara-aksara gairah
tersulut untuk geram
pada sesanggupanmu

kala tetapak melintas
serinai di muara baru
yaitu rindu kelu
teriakkan rasa
geletup awan memendar pelan
akankah abu-abu berkuasa
pada siang yang langsat
agar ia tersipu pada angkuhnya

singgasana yang baru
Tuhan bersedia titipkan ragumu
di sepetak kalbu
tanpa luruh

(2012)

melepas sajak-sajakku

dan apabila esok aku sudah tak lagi menulis disini
mungkin aku sudah benar-benar letih
dan apabila nanti aku sudah enggan meneruskan mimpi
mungkin aku telah benar-benar ingin pergi

satu-persatu sajakku berguguran di musim dingin
mungkin akan beterbangan menuju langit
seperti balon-balon yang lepas dari genggaman anak kecil

image courtesy by Google
(Januari - 2014)

Wednesday, December 25, 2013

to-do list

image courtesy by Google


"sudah menulis daftar kegiatan untuk liburan kali ini?"

fase terakhir (2)

terkadang, beberapa kali aku bertingkah acuh dan tidak mempedulikan keadaan sekitar. meskipun di sekeliling aku melihat tangan-tangan yang saling bergandengan dan bahu-bahu yang kerap mendekapkan diri. aku sedang dimana? aku siapa? kenapa jari-jariku kosong dan hanya angin yang menyentuh kulitku? beberapa waktu membosankan yang lalu kuhabiskan untuk pergi jauh, pergi dari rutinitas yang mereka anggap sebuah kesalahan besar. kata mereka, aku tak pantas begitu, mereka bilang aku lebih jahat dari seorang teroris. bahkan, beberapa dari mereka yang tak asing dalam hidupku berkata, "kamu itu munafik". rasanya seperti sebuah pistol yang menembakkan pelurunya tepat di kepalaku mendengar ia mengatakan hal itu.

teramat lelah kepala ini jika masih digunakan untuk menyesali peristiwa itu. seperti bom waktu, kini sudah saatnya untuk meledakkan diri. tapi aku masih saja terpaku di sudut ruang memori enam bulan yang lalu. di tepi danau yang tenang suatu sore yang indah, ketika kami sepakat untuk belajar memaafkan diri sendiri dan melupakan kesalahan yang sering mereka utarakan di belakang kami. iya, separuh jalan dari rute itu telah kami tempuh, dengan berbagai rasa dan kata-kata yang aku menyadarinya itu sebagai dosa, dosa termanis.

"apabila suatu hari nanti kami tak lagi seperti hari ini, doaku agar waktu tak cepat menuju hari itu. dimana aku masih sangat ingin menghabiskan waktu bersamanya dengan sangat pelan-pelan. aku ingin menikmatinya seolah esok sudah tak ada lagi hari seperti hari ini." - enam bulan silam.

fase demi fase berlalu, sampailah juga pada fase terberat dalam proses kehidupan. yaitu, fase dimana aku harus belajar melupakan dan kembali melangkahkan kaki yang sempat terhenti sejenak.

image courtesy by click here
(Desember - 2013)

Tuesday, December 24, 2013

fase terakhir

kini t'lah berpulang
bergidik disembah hilir pepuisi
hampir lenyapkan separuhmu
yang kerap memburu jantungku
pelan-pelan menikam arti
hingar tak lagi sanggup
tuk rangkumkan separuh diri
bekas runtuhan memoar
terpasung rerintik mata
kemana langkahku terhenti
mengunjungi harapan kosong
dan taburkan bunga kesedihan
di penghujung masa abu-abu
bayangmu tak lagi berarti
dan kuyakin
fase ini akan segera berlalu

images by click here
(Desember - 2013)

Tuesday, December 17, 2013

berhenti

dua orang yang...
berhenti untuk saling peduli
berhenti untuk saling mencuri pandang
berhenti untuk saling berharap
berhenti untuk saling bertegur sapa
berhenti untuk saling merindu
berhenti untuk saling mengganggap ada
berhenti untuk saling mengganggu
berhenti untuk saling menghabiskan waktu
berhenti untuk saling membutuhkan
berhenti untuk saling berjanji
berhenti untuk saling memiliki
berhenti untuk saling mengerti
berhenti untuk saling mendengarkan
berhenti untuk saling menunggu
berhenti untuk saling memberi
berhenti untuk saling mencari
berhenti untuk saling menggenggam
berhenti untuk saling mengagumi
berhenti untuk saling mencinta,
image courtesy by Google
..untuk berhenti saling menyakiti.
(Desember, 2013)