Di belokan menuju asa
tentangmu.
Kubanting stirku ke kanan untuk menghindar.
Berharap tak kutemui gusar sesudahnya.
Dan diam menepi
lalu berteriak dalam kosong.
Betapa memori kusandang
sebagai petunjuk arah.
Menghadap ke arah batin
(yang aku sendiri buta haluan).
Tertuntun kemudian
ke jalan menuju benci.
Dan sekaligus raut penuh dendam
yang penah aku tamparkan ke wajahnya.
Waktu (bukan) sedang kembali berputar.
Hanya aku yang sedang dihalau oleh ingatan.
Tanjakan berbatu lalu berkelok sangat licin.
Hampir aku terjatuh dan kembali memungkiri nestapa.
---
Kemudian udara dingin menyapu bersih seluruhnya.
(selama perjalanan di kota "Malang")
(Desember - 2011)
Showing posts with label benci. Show all posts
Showing posts with label benci. Show all posts
Tuesday, December 27, 2011
Friday, February 18, 2011
Maaf untukmu, 'kawan'
Rona senyummu pernah kusentuh, (dulu) tepat setengah tahun yang lalu.
Paras yang tulus dan menyenangkan.
Dan aku terkesima.
Ketika pusat diriku tercerai berai entah kemana.
Kau memapahku untuk menyusun puing-puing itu.
Dengan keramahanmu, kau peluk jemari lemahku.
Kita (berlari) menyusuri jurang yang kau sebut taman.
Memetik edelweiss, lalu kaupatahkan.
Kau tak ingin yang putih, namun hitam.
Segalamu (sangat) perfeksionis.
Bahkan jejakmu pun sukar untuk kutembus.
Aku geram dalam setiap hembusan.
Sesungguhnya, aku takut kehilangan 'kawan' sepertimu.
Namun lidahku nampaknya tak selaras dengan laku.
Kuuraikan gemericik dendam dengan kebungkaman terhadapmu.
Hingga kau beralih tumbuh dalam nista.
Aku tahu itu palsu.
Biarkan saja lara yang membasuhmu...
Kini, entah harapku (amat) tipis.
Maafkan aku...
Meski sekuncup benci telah terpatri dalam detakmu saat ini, hingga......
'mungkin tak akan pernah berujung'
***
Maaf ini untukmu, 'kawan'
Aku yakin kau lebih bahagia dengan 'hidupmu' saat ini
Paras yang tulus dan menyenangkan.
Dan aku terkesima.
Ketika pusat diriku tercerai berai entah kemana.
Kau memapahku untuk menyusun puing-puing itu.
Dengan keramahanmu, kau peluk jemari lemahku.
Kita (berlari) menyusuri jurang yang kau sebut taman.
Memetik edelweiss, lalu kaupatahkan.
Kau tak ingin yang putih, namun hitam.
Segalamu (sangat) perfeksionis.
Bahkan jejakmu pun sukar untuk kutembus.
Aku geram dalam setiap hembusan.
Sesungguhnya, aku takut kehilangan 'kawan' sepertimu.
Namun lidahku nampaknya tak selaras dengan laku.
Kuuraikan gemericik dendam dengan kebungkaman terhadapmu.
Hingga kau beralih tumbuh dalam nista.
Aku tahu itu palsu.
Biarkan saja lara yang membasuhmu...
Kini, entah harapku (amat) tipis.
Maafkan aku...
Meski sekuncup benci telah terpatri dalam detakmu saat ini, hingga......
'mungkin tak akan pernah berujung'
***
Maaf ini untukmu, 'kawan'
Aku yakin kau lebih bahagia dengan 'hidupmu' saat ini
Monday, January 3, 2011
*Benci di Khatulistiwa
Kebencian telah meremas kuat hatiku
Dia mencengkeramku erat
Layaknya balon dalam genggaman anak kecil
Sepertinya ia hendak mematahkan
Namun ketika telah di ujung
Nafas yang meluap seraya takut untuk singgah
Ia hanya menari-nari
Dan mencoba untuk memburu waktu
Sinarnya seketika melegam
Padahal garis cahaya tersirat diantaranya
*Kebencian sedang meracuni khatulistiwa ku
Dia mencengkeramku erat
Layaknya balon dalam genggaman anak kecil
Sepertinya ia hendak mematahkan
Namun ketika telah di ujung
Nafas yang meluap seraya takut untuk singgah
Ia hanya menari-nari
Dan mencoba untuk memburu waktu
Sinarnya seketika melegam
Padahal garis cahaya tersirat diantaranya
*Kebencian sedang meracuni khatulistiwa ku
Subscribe to:
Posts (Atom)