Tatapanku hanyut pada kehingar-bingaran sudut kota tepat disamping sungai emas itu.
Ditemani sepiring nasi merah idamanku, kini aku mengumbar ragu dengan bergurau tentang sebentuk kisah yang terpendam rapi oleh waktu.
Bukan tersapu nasib sebab tak terjamah oleh kami, bukan pula terseok kelalaian melainkan kusut akibat perombakan usia.
Jejak kian bergelayut menidurkan kenangan, yang tumbuh pada reranting kusam dipekarangan hatiku.
Terhempaskan oleh sang bayu hingga (hampir) mematahkan tangkai kejenuhan yang kami sebut parasit.
Lalu kaulukis tentang resah pada secarik dahan yang telah menguningkan tubuh lunglainya.
Kautandai dengan sepucuk melati yang sempat terkikir oleh noda sebab getah.
"Getah kau bilang?"
"Ya, lantas mengapa?"
Ia bukan geranium yang siap menggores kulitmu dengan deduri diantara keelokan parasnya.
Bukan pula edelweiss yang tega menjebakmu untuk menelan buah simalakama ;antara hidup dan matimu.
Masih dalam bimbang yang berselimutkan tanya, kudesak agar ia tumpah.
Maaf.
Setangkup sandwich mu terantuk jauh dari dialog kita.
Sembilan Belas Maret Dua Ribu Sebelas.
Di tempat itu kami bernostalgia.
Showing posts with label edelweiss. Show all posts
Showing posts with label edelweiss. Show all posts
Sunday, March 27, 2011
Friday, February 18, 2011
Maaf untukmu, 'kawan'
Rona senyummu pernah kusentuh, (dulu) tepat setengah tahun yang lalu.
Paras yang tulus dan menyenangkan.
Dan aku terkesima.
Ketika pusat diriku tercerai berai entah kemana.
Kau memapahku untuk menyusun puing-puing itu.
Dengan keramahanmu, kau peluk jemari lemahku.
Kita (berlari) menyusuri jurang yang kau sebut taman.
Memetik edelweiss, lalu kaupatahkan.
Kau tak ingin yang putih, namun hitam.
Segalamu (sangat) perfeksionis.
Bahkan jejakmu pun sukar untuk kutembus.
Aku geram dalam setiap hembusan.
Sesungguhnya, aku takut kehilangan 'kawan' sepertimu.
Namun lidahku nampaknya tak selaras dengan laku.
Kuuraikan gemericik dendam dengan kebungkaman terhadapmu.
Hingga kau beralih tumbuh dalam nista.
Aku tahu itu palsu.
Biarkan saja lara yang membasuhmu...
Kini, entah harapku (amat) tipis.
Maafkan aku...
Meski sekuncup benci telah terpatri dalam detakmu saat ini, hingga......
'mungkin tak akan pernah berujung'
***
Maaf ini untukmu, 'kawan'
Aku yakin kau lebih bahagia dengan 'hidupmu' saat ini
Paras yang tulus dan menyenangkan.
Dan aku terkesima.
Ketika pusat diriku tercerai berai entah kemana.
Kau memapahku untuk menyusun puing-puing itu.
Dengan keramahanmu, kau peluk jemari lemahku.
Kita (berlari) menyusuri jurang yang kau sebut taman.
Memetik edelweiss, lalu kaupatahkan.
Kau tak ingin yang putih, namun hitam.
Segalamu (sangat) perfeksionis.
Bahkan jejakmu pun sukar untuk kutembus.
Aku geram dalam setiap hembusan.
Sesungguhnya, aku takut kehilangan 'kawan' sepertimu.
Namun lidahku nampaknya tak selaras dengan laku.
Kuuraikan gemericik dendam dengan kebungkaman terhadapmu.
Hingga kau beralih tumbuh dalam nista.
Aku tahu itu palsu.
Biarkan saja lara yang membasuhmu...
Kini, entah harapku (amat) tipis.
Maafkan aku...
Meski sekuncup benci telah terpatri dalam detakmu saat ini, hingga......
'mungkin tak akan pernah berujung'
***
Maaf ini untukmu, 'kawan'
Aku yakin kau lebih bahagia dengan 'hidupmu' saat ini
Subscribe to:
Posts (Atom)