Showing posts with label maaf. Show all posts
Showing posts with label maaf. Show all posts

Tuesday, February 28, 2012

(bukan) sedang ingin menyendiri

Duduk menyendiri di tempat ini, sudah bukan hal aneh lagi bagiku. Bagi seorang "penikmat kesendirian" sepertiku, sebuah julukan konyol yang diberikan seorang kawan untukku. Hahaha. Acuhkan sorotan mata mereka yang berulangkali mencoba menelanjangiku dari ujung kerudung hingga ujung kaki. Aku tak peduli. Kebisingan diluar, bagiku kehampaan didalam. Ketika dua keadaan tak sinkron harus dipaksakan berjalan beriringan. Mungkin untuk saat ini, aku memang sedang ingin menyendiri...

Seteguk demi teguk Caramel Macchiato dingin mengguyur gersang di kerongkongan. Terik yang langsat memaksa labirinku menampik kontras cuaca, antara hati dan langit hari ini. Sebuah perasaan bersalah memataharikan ego. Menguasai hamparan angkasa batin dengan serakah...

Selasa, 28 Februari 2012. Maaf atas kecerobohanku hari ini, sayang. Aku benar-benar tak pernah ada maksud hati untuk mengecewakanmu :(

Sunday, August 28, 2011

Batu Beku

Beku
Dingin yang menjalar hingga hampir memutuskan syaraf di otakku
Sempat tak kukenali raut-raut yang seharusnya tak boleh kuacuhi
Mungkin terlalu pekat kabut yang menutupi jalan ini
Tatapan yang nyaris kabur, tak setitikpun mampu tertangkap oleh retina mata
Batu
Mungkin batu yang pantas untuk menggambarkan keadaanku
Batu yang beku?
Entahlah..
Aku merasa keras seperti batu
Otakku mendingin dan hampir membeku
Maaf untuk ladang acuhku yang kuhamparkan kepada kalian
Tak sepantasnya kalian menerima ini
Namun sekali lagi, otakku membeku untuk menyesali ini
Mungkin sudah terlambat
:(

(Agustus - 2011)

Wednesday, March 30, 2011

maafkanlah ..

Jika setitik maafku belum cukup untuk mendinginkan hatimu,
   akan kuberikan jutaan tetesnya untukmu sekarang juga
Jika sebongkah pengakuan salahku tak juga sanggup mengetuk perasaanmu,
   akan kupersembahkan sebentuk raksasa kejujuran bahwa aku sangat menyesal
Katakan saja, bila kejenuhan tengah menodai segalamu
Yang membuat kau begitu membenciku saat ini
Bukan bermaksud untuk membalas
Namun aku ingin kau paham
Langitku menjadi muram, kehidupan dalam diriku rasanya padam
Karna sinar cintamu enggan menghangatkan jiwaku lagi
Ketahuilah, aku sangat merindukanmu
Sebesar apapun salahmu, aku sanggup memaafkanmu
Dan kuharap kau juga begitu
Kumohon, maafkanlah
Maafkanlah salahku kali ini ...

(Maret, 2011)

Monday, March 28, 2011

Kuinginkan rintik maafmu ..

Kuinginkan rintikmu menghapus khilafku ketika senja nanti.
Yang merumpun diantara ilalang dan tertikam oleh rerimbun sang belukar.
Kita mengharu biru dalam hangatnya dekapan lembut awan hitam.
Dan kau melupa jika mereka memiliki sepasang boomerang yang siap menghunus jantung kita, bukan, jantungmu saja.
Lalu ketika kau sengaja memetikkanku sekuntum chrysant pada hamparan kebun mawar kuning,
Saat berbalik, gerimis yang semula enggan menampik segala dustamu, nampaknya ia akan segera menjerujuimu.
Kemudian akar mereka bersiap membidik tepat di pangkal rusukmu yang selalu kau elu-elukan.
Tidak, aku tidak setega analogimu.
Aku bersumpah dalam aliran darahku tak mungkin tercemar noda jahanam setitikpun
Terlebih itu untukmu.
Dan aku hanya inginkan kenanga sebagai persembahanmu.
Meski tak senikmat aroma kopi luwak, atau katakanlah Chrysantemmum ;dalam analogimu.
Ketahuilah, sebentang hatiku telah kau harumkan dengan cintamu.
Tak perlu lagi puluhan Mawar atau bahkan ratusan Chrysant.
Apakah kau lupa jika mawar selalu pamrih, sedangkan Chrysant tak pernah sepenuh hati dalam mewangi.
Kini, dengan setangkai mawar hitam pada genggamanku (yang perlahan meneteskan cairan merah), aku bersimpuh dengan segenap pinta padaNya:
"Tuhan, kuinginkan rintik maafnya untuk membasuh khilafku kali ini"
                                  pict by google

Friday, February 18, 2011

Maaf untukmu, 'kawan'

Rona senyummu pernah kusentuh, (dulu) tepat setengah tahun yang lalu.
Paras yang tulus dan menyenangkan.
Dan aku terkesima.
Ketika pusat diriku tercerai berai entah kemana.
Kau memapahku untuk menyusun puing-puing itu.
Dengan keramahanmu, kau peluk jemari lemahku.
Kita (berlari) menyusuri jurang yang kau sebut taman.
Memetik edelweiss, lalu kaupatahkan.
Kau tak ingin yang putih, namun hitam.
Segalamu (sangat) perfeksionis.
Bahkan jejakmu pun sukar untuk kutembus.
Aku geram dalam setiap hembusan.
Sesungguhnya, aku takut kehilangan 'kawan' sepertimu.
Namun lidahku nampaknya tak selaras dengan laku.
Kuuraikan gemericik dendam dengan kebungkaman terhadapmu.
Hingga kau beralih tumbuh dalam nista.
Aku tahu itu palsu.
Biarkan saja lara yang membasuhmu...
Kini, entah harapku (amat) tipis.
Maafkan aku...
Meski sekuncup benci telah terpatri dalam detakmu saat ini, hingga......
'mungkin tak akan pernah berujung'

***
Maaf ini untukmu, 'kawan'
Aku yakin kau lebih bahagia dengan 'hidupmu' saat ini