Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Saturday, June 11, 2011

Tentang Bintang :)


"tetep dilanjutin ya nulisnya.

nulis itu jiwamu"
--kamu, 08 juni 2011--



nggak akan mungkin aku berhenti nulis dengan alasan konyol itu, percayalah. itu hanya sebuah kata-kata ilusi dalam sajakku saja. jari-jari ini akan berhenti menari dengan sang pena jika syaraf-syaraf di tangan ini terputus, atau membeku, atau mati rasa. segalanya akan berubah ketika inspirasi sudah musnah dari bumi ini. dan kenyataannya, inspirasi nggak akan pernah mati.


salah satu inspirasi terbesarku yaitu kamu. ya, aku yakin kamu sudah mengetahuinya sejak dulu. entah, mungkin inilah jati diriku yang sebenarnya, hidup dengan cara berkarya lewat tulisan-tulisanku sendiri.

maaf untuk beberapa tulisanku yang terlalu memojokkan kamu, membenci, mencaci, merendahkanmu, menganggapmu buruk, atau apalah itu. aku hanya menulis apa yang aku pikirkan saat itu, ketika di dalam pikiranku sedang terlintas kata-kata itu. sekali lagi maaf, saat itu aku sedang berdansa dengan frasa-frasa yang ada di dalam otakku. toh, semua itu hanya sekilas kan? kenyataannya perasaan bisa berubah terhadap waktu.

dan yang aku tekankan satu hal, rasa itu tetap dan akan selalu ada buat kamu. nggak peduli apakah kamu mau membalasnya atau tidak. aku tulus menulis semua ini. tulisan-tulisanku memang banyak yang aku dedikasikan buat kamu. bahkan 80% dari semuanya adalah tentang kamu. aku nggak pernah minta kamu buat selalu jadi inspirasiku, karna inspirasi yang sesungguhnya nggak harus terikat oleh suatu hubungan.

kamu adalah inspirasi terindah yang pernah kupikirkan. terima kasih, aku putuskan untuk tetap menulis, semua hal yang aku lihat, dengar dan rasakan akan menjadi inspirasi setiaku. dan kamu nggak akan pernah mati untuk selalu ada di pikiranku. kusebut kamu bintang, kamu tau sendiri kan, bintang itu jauh di langit, dan aku hanya bisa melihat kamu dari kejauhan, nggak akan bisa aku sentuh, itu nyata seperti kamu kan? kamu nggak akan bisa aku sentuh lagi. rupanya aku tepat menganalogikan kamu sebagai bintang sejak awal kita bertemu. dan kini aku akan tetap menulis bukan hanya untukmu saja melainkan untukku dan untuk mereka juga.

"kapan lagi kutulis untukmu, tulisan-tulisan indahku yang dulu, pernah warnai dunia, puisi terindahku hanya untukmu..
mungkinkah kau kan kembali lagi, menemaniku menulis lagi, kita arungi bersama puisi terindahku hanya untukmu.." -- Jikustik, Puisi --

lagu ini cocok banget ya buat aku :)

dan aku akan tetap menulis tentang kamu, Tentang Bintang. karena inspirasi ini darimu, sebabmu dan untukmu @faf :)

Friday, February 18, 2011

Maaf untukmu, 'kawan'

Rona senyummu pernah kusentuh, (dulu) tepat setengah tahun yang lalu.
Paras yang tulus dan menyenangkan.
Dan aku terkesima.
Ketika pusat diriku tercerai berai entah kemana.
Kau memapahku untuk menyusun puing-puing itu.
Dengan keramahanmu, kau peluk jemari lemahku.
Kita (berlari) menyusuri jurang yang kau sebut taman.
Memetik edelweiss, lalu kaupatahkan.
Kau tak ingin yang putih, namun hitam.
Segalamu (sangat) perfeksionis.
Bahkan jejakmu pun sukar untuk kutembus.
Aku geram dalam setiap hembusan.
Sesungguhnya, aku takut kehilangan 'kawan' sepertimu.
Namun lidahku nampaknya tak selaras dengan laku.
Kuuraikan gemericik dendam dengan kebungkaman terhadapmu.
Hingga kau beralih tumbuh dalam nista.
Aku tahu itu palsu.
Biarkan saja lara yang membasuhmu...
Kini, entah harapku (amat) tipis.
Maafkan aku...
Meski sekuncup benci telah terpatri dalam detakmu saat ini, hingga......
'mungkin tak akan pernah berujung'

***
Maaf ini untukmu, 'kawan'
Aku yakin kau lebih bahagia dengan 'hidupmu' saat ini

Thursday, February 17, 2011

Kau dan Aku

Kau ajari aku bermimpi
Setelah begitu lama aku lupa cara bermimpi
Hingga kau menemukanku
Atau aku yang menemukanmu?
Bukan, kita saling menemukan
Dalam sebuah keajaiban
Kau ajari pula aku tersenyum
Sesungguhnya tersenyum
Bukan hanya segurat lengkung
Aku memujamu
Menyimpan tiap detilmu dalam memori terindahku
Hingga takut itu datang
Takut untuk kehilanganmu
Takut kehilangan mimpi-mimpiku
Yang bersamamu sudah kugambar begitu indah
Meski kita sama-sama tak tau
Kapan mimpi akan terengkuh
Pada akhirnya, akan disini
Meski harus bersabar menanti

Sunday, February 13, 2011

#Review Puisi : "Hei! Jangan Kau Patahkan"

HEI! JANGAN
KAUPATAHKAN

Hei! Jangan kaupatahkan
kuntum bunga itu
ia sedang mengembang;
bergoyang-goyang dahan-dahannya
yang tua
yang telah mengenal
baik, kau tahu,
segala perubahan cuaca.
Bayangkan: akar-akar
yang sabar menyusup
dan menjalar
hujan pun turun setiap
bumi hampir hangus
terbakar
dan mekarlah bunga itu
perlahan-lahan
dengan gaib, dari rahim
Alam.
Jangan; saksikan saja
dengan teliti
bagaimana Matahari
memulasnya warna-
warni, sambil
diam-diam
membunuhnya dengan
hati-hati sekali
dalam Kasih-sayang,
dalam rindu-dendam
Alam;
lihat, ia pun terkulai
pelahan-lahan
dengan indah sekali,
tanpa satu keluhan.
(Sapardi Djoko Damono, dalam bukunya Hujan Di Bulan Juni - hal. 13)


Puisi diatas adalah puisi yang paling saya sukai dari kumpulan puisi karya Sapardi Djoko Damono dalam buku "Hujan Di Bulan Juni". Entah mengapa ketika membaca puisi ini saya sangat kagum dengan diksi yang dipakai beliau. Sederhana namun merasuk. Seperti pada kalimat "saksikan saja dengan teliti bagaimana Matahari memulasnya warna-warni, sambil diam-diam membunuhnya dengan hati-hati sekali". Sungguh lihai, makna yang dapat kita tangkap dari kalimat di atas adalah peran matahari yang mampu 'menghidupkan' juga 'mematikan' tanaman. Maksudnya adalah, seperti yg kita ketahui, matahari dibutuhkan tanaman untuk proses fotosintesis. Sepanjang masa tanaman tsb hidup, ia akan menghasilkan bunga atau buah yg berwarna-warni. Disinilah makna dari matahari "memulas warna-warni". Namun, matahari juga mampu 'memusnahkan' tanaman tsb seperti pada pilihan kata "sambil diam-diam membunuhnya dengan hati-hati sekali". Ketika musim kemarau, di saat hujan pergi sejenak untuk beberapa waktu, perlahan tapi pasti tanaman juga akan terbunuh seiring kemarau menguasai musim. Disinilah hebatnya, sang penyair menyebutkan kata membunuhnya dengan hati-hati sekali. Sangat nampak pada kata 'sekali' yg menggambarkan betapa sangat hati-hatinya sang matahari membunuh para tanaman pada musim kemarau, meski itu bukan keinginannya. Ia membunuh dengan perlahan-lahan juga dengan kasih sayangnya, sehingga tanaman pun akhirnya mati terkulai tanpa satu keluhan. Benar-benar menakjubkan. Saya suka puisi ini, dan tentunya salut kepada sang penyair :)

Wednesday, February 9, 2011

#flashback - sebuah ungkapan kegundahan

''dan aku akan tetap
sendiri seperti ini . . .
sampai kau kembali
menjemputku dari
kesepian
mengajakku melihat
warna indah dunia
menunjukkan aku pada
wangi bunga yang sedang
mekar
memberitahuku tentang
suara gemuruh ombak di
pantai
semua itu ingin aku
dengar, cium, dan
rasakan
setelah sekian lama tak
pernah ku lakukan lagi
bersamamu . .
kemanakah hilangnya warna
duniaku ?
kemanakah perginya wangi
bungaku ?
dan kemanakah hilangnya suara
ombak itu ?
kembalilah . .
semua itu serasa
menghilang, ketika kau
tak ada disini
pulanglah, dan temani
aku merasakannya lagi
aku menunggumu
kembali, sayang . .
aku merindukanmu :("

(Adinda Retna Pradini, 28 Juni 2010)


Sebuah sajak ku tulis ketika kegundahan merasuki kalbuku. Tepat pada tanggal 28 Juni 2010, ketika jiwa sedang dirajai oleh kesepian. Waktu itu sang belahan hati entah pergi kemana, dan entah mengapa juga tiba-tiba membiarkanku seakan ia jenuh padaku. Malam itu, diiringi tetesan kerinduan dan percikan kegundahan, aku menulis bait ini. Sebuah syair yang ku tunjukkan untuk sang pencipta rinduku. Sebuah ungkapan sederhana tentang kegundahanku pada belahan hati yang perlahan menjauhiku, sebelum akhirnya ia benar-benar menghilang 'sejenak' dari hidupku :(

Monday, December 13, 2010

pencipta rinduku

angin pun masih membuatku gerah
meski sang awan telah mencipta keredupan disini
dia kembali mengusikku
belaiannya menyentuh relungku senti demi senti

tercipta sebuah gerakan yang padu dalam hati
penggabungan antara asa dan rasa
menggetarkan kalbu, juga nafasku

kurasakan sentuhan ini semakin mengoyak ragaku
memaksa sesuatu yang terbendung dalam jiwa sepiku
hembusannya semakin lama menyegarkan batin
sehingga aku dapat merasakan hangatnya dekapan itu

dalam rapuhku, kau masih sanggup memelukku
dalam kerentaanku, kau masih segan memapahku
dalam rindumu
yang selalu menentramkanku :)




dedicated to : pencipta rinduku, Ferdy Adi Fitra :)