aku berhenti ...
menjadikanmu inspirasi dalam tulisanku
mendendangkan namamu di tiap malam sunyiku
menempa kegelisahan diantara bayangan kerinduan
menanti hangat sapamu di cerah mentari esokku
memelas pada detik jam dinding kamarku, berharap ini hanyalah mimpi buruk
"aku tak mampu berjanji, namun aku hanya bisa berharap
ini tak akan terulang..." -- April 2010 --
sebaris kalimat yang masih kuingat terlontar manis dari bibir dustamu
dan kini aku pun juga tak mampu berjanji
namun aku juga hanya bisa berharap
ini juga tak akan pernah terulang
tak akan terulang
ya, aku berhenti...
Showing posts with label broken heart. Show all posts
Showing posts with label broken heart. Show all posts
Monday, June 6, 2011
Monday, May 30, 2011
mendung
menghitam legam langit khatulistiwaku, seiring dengan luka yang melekat manis dalam sukma
menggelapgulitakan segala detak kenangan yang selama ini tersimpan, pupus sudah
mengeruh bagai guyuran hujan yang mengandung butiran debu serta partikel-partikel bebatuan lainnya
mendung tengah menyelimuti khatulistiwa, namun ia enggan merintikkan garis-garis sejuknya
entah sampai kapan ia memuramkan wajah eloknya, padahal ia senantiasa berseri meski perih menusuk nurani ...
mendung berhasil mengundang semilir angin yang menggerahkan
dan masih dengan raut khasnya yang sinis, mereka mentertawai kesendirianku
ah, kubiarkan saja diriku tenggelam dalam cercaan mereka
toh aku memang kalah
dan aku pantas disebut pecundang!!
tertunduk dan meringis, sambil menggigit bibirku yang kian bergetar untuk menahan sebuah ...
tangisan penyesalan ...
mendung, lekaslah beranjak dari langitku
(Mei, 2011)
menggelapgulitakan segala detak kenangan yang selama ini tersimpan, pupus sudah
mengeruh bagai guyuran hujan yang mengandung butiran debu serta partikel-partikel bebatuan lainnya
mendung tengah menyelimuti khatulistiwa, namun ia enggan merintikkan garis-garis sejuknya
entah sampai kapan ia memuramkan wajah eloknya, padahal ia senantiasa berseri meski perih menusuk nurani ...
mendung berhasil mengundang semilir angin yang menggerahkan
dan masih dengan raut khasnya yang sinis, mereka mentertawai kesendirianku
ah, kubiarkan saja diriku tenggelam dalam cercaan mereka
toh aku memang kalah
dan aku pantas disebut pecundang!!
tertunduk dan meringis, sambil menggigit bibirku yang kian bergetar untuk menahan sebuah ...
tangisan penyesalan ...
mendung, lekaslah beranjak dari langitku
(Mei, 2011)
Sunday, May 15, 2011
lengkungan palsumu
Kuakui, diriku masih terbelenggu tiada daya dalam lengkungan palsu yang mirip dengan senyummu.
Memang benar adanya, segurat garis membusur milikmu sanggup memabukkan sekuntum harapan yang baru saja mengembun di dalam kelopak laraku.
Hingga langkah kecil ini tertahan manis di jurang persimpangan dan tak mampu menginjakkan kepastian pada jejak putusan.
Entah mungkin kau akan sangat puas menyaksikan hamparan kegundahanku.
Namun lagi-lagi segurat garis lengkung berhasil memoles indah rona kesadisanmu.
Pantas saja, luka di batin ini tak kunjung mengering.
Harusnya ku sadar sendiri, meski pahitnya memaksa nurani untuk segera pergi.
Dan senja hari ini masih saja termenung, seakan mengasihani diriku yang enggan untuk menyambut separuh kegelapan, dimana langitku sudah tak terhias bintang darinya lagi...
Teruntuk:
sesosok bayangan pendusta di akhir penantianku yang malam itu tak henti-hentinya tertawa lepas dengan ditemani secangkir dingin kopi hitam pujaannya.
prologue
sosok pendusta dengan secangkir kopi hitam di genggamannya
lambat laun genggamanmu akan melemah, lantas kau jatuhkan cangkir dan kopi itu
lalu kau bergegas mencari sesuatu yang lain untuk menggenggam tanganmu, kau tinggalkan kepingan porslein dengan bercak hitamnya begitu saja
kau temukan lagi sesuatu yang berbeda dalam genggamanmu, tak berapa lama kemudian kau akan melepasnya, begitu terus menerus dan berulang-ulang
hingga suatu hari kepingan yang hancur lebur itu akan berbalik menyerangmu, bahkan membunuhmu,,dan itulah saat yang paling kutunggu-tunggu
kau merintih dalam nistamu, bergegas kau ulurkan tanganmu kepadaku, namun aku menepisnya, dan secepat kilat aku melenyap dari pandanganmu
tak hanya nista yang kau dapat, tetapi juga karma!!! di tengah cercaan serta gelak tawa mereka yang juga sepertiku, kau memohon padaku untuk sebuah pemaafan
sebenarnya bukan itu yang ingin kusangsikan, karena matamu terlalu cerah untuk mengerlingkan sesal abadi
lekas beranjaklah dari dustamu, sayang, raihlah cinta sesuci kau meraih pemaafanmu kembali, bukan, bukan dariku, melainkan dari yang Maha Kuasa
Saturday, May 14, 2011
Saya Apatis
Katakan saya apatis
Ataupun pecundang, loser, pemimpi, si terjatuh..
Kata apapun yang kau punya untuk menggambarkan seseorang yang patah hati
Patah hati dan mentertawakan cinta
Mencemohnya dan membuangnya jauh-jauh
Muak mengingat kata-kata
Sakit mendengar lagu-lagu
Dan benci mendekati cinta
Love is the biggest bullshit in human life
Believe me
Tidak ada yang lebih semu dari ilusi yang ditimbulkan cinta
Tidak ada yang membuat sakit dan patah lebih parah dari hati yang putus cinta
Karena cinta tidak lebih dari efek psikologis dan efek kimia dari otak semu manusia
Ataupun pecundang, loser, pemimpi, si terjatuh..
Kata apapun yang kau punya untuk menggambarkan seseorang yang patah hati
Patah hati dan mentertawakan cinta
Mencemohnya dan membuangnya jauh-jauh
Muak mengingat kata-kata
Sakit mendengar lagu-lagu
Dan benci mendekati cinta
Love is the biggest bullshit in human life
Believe me
Tidak ada yang lebih semu dari ilusi yang ditimbulkan cinta
Tidak ada yang membuat sakit dan patah lebih parah dari hati yang putus cinta
Karena cinta tidak lebih dari efek psikologis dan efek kimia dari otak semu manusia
Friday, May 13, 2011
3 Mei 2011
terhenti sejenak, menepi di bawah rerimbun jantung kota
lalu lalang kotak baja membising, seakan bertarung deru denganku
sinar terkadang mengintip dari celah dedaun yang masih hijau
tertegun memandang beberapa sudut itu, dimana kita pernah meraihnya bersama
nampak sekilas senyum kita samar-samar,
menyusuri jalanan berdebu,
menghitung kerlap-kerlip lampu kota,
menunjuk bintang terindah pada malam milik kita
namun kutahu itu dahulu
nyatanya angan berusaha menipu mataku
dan rupanya aku terlambat menyadarinya
***
"summer has come and past, the innocent can never last, wake me up when september ends..."
melodi ituuu... :(
***
Surabaya, 03 Mei 2011, sidewalk Hotel Tunjungan pukul 12.23
lalu lalang kotak baja membising, seakan bertarung deru denganku
sinar terkadang mengintip dari celah dedaun yang masih hijau
tertegun memandang beberapa sudut itu, dimana kita pernah meraihnya bersama
nampak sekilas senyum kita samar-samar,
menyusuri jalanan berdebu,
menghitung kerlap-kerlip lampu kota,
menunjuk bintang terindah pada malam milik kita
namun kutahu itu dahulu
nyatanya angan berusaha menipu mataku
dan rupanya aku terlambat menyadarinya
***
"summer has come and past, the innocent can never last, wake me up when september ends..."
melodi ituuu... :(
***
Surabaya, 03 Mei 2011, sidewalk Hotel Tunjungan pukul 12.23
Tuesday, May 10, 2011
they said ...
"dind,,,senyum po'o"
"dindaaaaa,,,,kamu kenapa sih?"
"dindaaaaa,,,,aku ada salah ke kamu tah??"
"dind, yang sabar ya,,,Allah selalu sayang kamu kok"
"dindaa, sini aku peluk,,,jangan nangis lagi yah sayang"
"dind,,,,ayo tah senyum"
"dindaaa,,,,kamu yang cerewet po'o kayak biasanya"
"dindaa sayang,,,semua itu pasti ada hikmahnya kok, tenang aja,,,,hukum karma masih berlaku"
"dindaaaaa,,,,yang kuat ya sayang,,,cewek itu nggak boleh lemah"
"dind,,,,kamu aneh lho kalo diem gini, ayo tah ngomong"
"dindaaaaa,,,,aku percaya kamu bisa lalui ini semua,,,keep praying yah, masih banyak kok yang sayang sama kamu,,,termasuk aku"
MAKASI YAH TEMAN-TEMAN :')
"dindaaaaa,,,,kamu kenapa sih?"
"dindaaaaa,,,,aku ada salah ke kamu tah??"
"dind, yang sabar ya,,,Allah selalu sayang kamu kok"
"dindaa, sini aku peluk,,,jangan nangis lagi yah sayang"
"dind,,,,ayo tah senyum"
"dindaaa,,,,kamu yang cerewet po'o kayak biasanya"
"dindaa sayang,,,semua itu pasti ada hikmahnya kok, tenang aja,,,,hukum karma masih berlaku"
"dindaaaaa,,,,yang kuat ya sayang,,,cewek itu nggak boleh lemah"
"dind,,,,kamu aneh lho kalo diem gini, ayo tah ngomong"
"dindaaaaa,,,,aku percaya kamu bisa lalui ini semua,,,keep praying yah, masih banyak kok yang sayang sama kamu,,,termasuk aku"
MAKASI YAH TEMAN-TEMAN :')
andaikan
andaikan kata "kembali" tak pernah terucap dari bibirmu
andaikan waktu itu aku tidak goyah meskipun kau pengaruhi
andaikan aku tidak plin-plan
andaikan aku tidak egois
andaikan aku menolak kesempatanmu
andaikan aku tidak butuh pertolonganmu
andaikan aku jadi jahat
andaikan aku pendendam
andaikan aku sanggup membencimu
andaikan aku mau belajar dari pengalamanku
***
dan andaikan saja aku tidak pernah bertemu denganmu
Monday, May 9, 2011
..........................................
1 Mei 2011
Ku sempatkan menatap wajahmu lekat-lekat, kutelusuri. Sesak dalam dada mulai mencabik. Perih ..................................
2 Mei 2011
Terdiam di sudut kebimbangan, sunyi. Masih sulit kupercayai ini. Sekilas berharap semuanya hanya ilusi, namun .................................. nyatanya ini benar-benar terjadi.
3 Mei 2011
Lidahku membeku. Tak sepatahpun terbisik dari bibir ini. Diam ................................
4 Mei 2011
Seraya kaki melangkah, jemari kita bertemu. Kau memelukku rindu, membelai lembut kerudung manisku. Dan kusadar, semua itu hanya melodimu ...................................
5 Mei 2011
Terduduk lesu. Membuka notes lalu menggoreskan pena. Kutulis tentang ilmuku pagi ini. Diantara goresan itu, ada tiga buah untaian kata yang tersisip saling menghimpit. Tanpa terasa, muaraku turut menguraikan rintik sucinya ...........................................
6 Mei 2011
Kusebut kau lawan, namun dahulu. Kini kau kawanku. Kita saling bermain kata, sepanjang roda berputar. Menyusuri kota tercinta kita, kota dengan sejuta kebahagiaan, ditambah semilyar-triliyun duka cita. Lalu kutemukan egomu dalam sepenggal tanyaku ...........................................
7 Mei 2011
Menghirup atmosfer kerinduan lebih menyesakkan daripada bernapas dalam udara penuh asap cerutu dan polusi. Kuputar sekali lagi melodimu, kuresapi. Semakin sesak. Tertahan pilu dalam setiap hembusan. Dan tak kuasa, muaraku kembali merintikkan gerimis kecilnya ..............................................
8 Mei 2011
Bersimpuh lemah di hadapan-Nya, memetik sebongkah harap dengan segenap jiwa dalam rintihan. Kuinginkan jiwaku sanggup menamatkan luka ini. Semoga. Tiada lagi hembusan bimbang yang menyesakkan nurani, pintaku. Masih dalam harap, kurintikkan sekali lagi (dan semoga yang terakhir), rinduku, untukmu ........................................................................................
Ku sempatkan menatap wajahmu lekat-lekat, kutelusuri. Sesak dalam dada mulai mencabik. Perih ..................................
2 Mei 2011
Terdiam di sudut kebimbangan, sunyi. Masih sulit kupercayai ini. Sekilas berharap semuanya hanya ilusi, namun .................................. nyatanya ini benar-benar terjadi.
3 Mei 2011
Lidahku membeku. Tak sepatahpun terbisik dari bibir ini. Diam ................................
4 Mei 2011
Seraya kaki melangkah, jemari kita bertemu. Kau memelukku rindu, membelai lembut kerudung manisku. Dan kusadar, semua itu hanya melodimu ...................................
5 Mei 2011
Terduduk lesu. Membuka notes lalu menggoreskan pena. Kutulis tentang ilmuku pagi ini. Diantara goresan itu, ada tiga buah untaian kata yang tersisip saling menghimpit. Tanpa terasa, muaraku turut menguraikan rintik sucinya ...........................................
6 Mei 2011
Kusebut kau lawan, namun dahulu. Kini kau kawanku. Kita saling bermain kata, sepanjang roda berputar. Menyusuri kota tercinta kita, kota dengan sejuta kebahagiaan, ditambah semilyar-triliyun duka cita. Lalu kutemukan egomu dalam sepenggal tanyaku ...........................................
7 Mei 2011
Menghirup atmosfer kerinduan lebih menyesakkan daripada bernapas dalam udara penuh asap cerutu dan polusi. Kuputar sekali lagi melodimu, kuresapi. Semakin sesak. Tertahan pilu dalam setiap hembusan. Dan tak kuasa, muaraku kembali merintikkan gerimis kecilnya ..............................................
8 Mei 2011
Bersimpuh lemah di hadapan-Nya, memetik sebongkah harap dengan segenap jiwa dalam rintihan. Kuinginkan jiwaku sanggup menamatkan luka ini. Semoga. Tiada lagi hembusan bimbang yang menyesakkan nurani, pintaku. Masih dalam harap, kurintikkan sekali lagi (dan semoga yang terakhir), rinduku, untukmu ........................................................................................
Subscribe to:
Posts (Atom)