Showing posts with label Gundah. Show all posts
Showing posts with label Gundah. Show all posts

Friday, February 3, 2012

Gerimis Februari

Februari merintik
suguhkan kerelam lampau
yang justru dirasai gundah
dan tak lekas capai selansir
bergejolak mematut dirinya
dan rupanya enggan
merangkul sekilas kehendak
dalam rahimnya yang hangat

direbakannya rindu semilir
kepada angan yang membumbung
sepintas tatap bertajuk mesra
ceritakan harapan milik sesiapa
satu per satu berurutan
meski nadanya sumbang

Februari gerimis
ketika April bercumbu mesra dengan Juli
matanya memendam tangis

(Februari - 2012)

Saturday, November 12, 2011

Rasanya Ingin Mengeluh

Hampir ditertawakan oleh malam, lututku menahan letih. Ah, padahal biasanya aku yang menertawakan malam. Bersamanya, sahabatku tercinta :)*
Rasanya ingin menukar lututku dengan lutut meja, atau dengan lutut besi nan kuat dengan segala timpaan beban. Tapi, coba pikir dulu. Besi akan berkarat jika ia terus bersinggungan dengan air. Apalagi hanya sekadar kayu, ia akan segera lapuk jika berada di udara yang lembab dan satu hal lagi, kayu adalah santapan terlezat makhluk mini bernama rayap!!

Masih ingin mengganti lututmu dengan mereka?????

Kalau begitu, aku berdoa saja pada Tuhan agar lututku diganti dengan lutut atlet cabang olahraga lari. Agar aku lihai lari dari kenyataan ini :p

Demi apapun, kalaupun bisa dan diperbolehkan, aku ingin mengeluh. Tuhan, hambaMu mulai letih dengan segala rutinitas palsu yang sudah berjalan sekitar 3 bulan ini. Demi selembar kertas bernama "sertifikat" dengan tulisan SKP tercetak tebal yang menggambarkan kepuasan dan kebanggaan para makhluk baru penghuni "jalan menuju neraka" alias Kampus. Kalaupun boleh, aku ingin kembali saja ke rumah, menikmati waktu tidurku dengan sepuasnya, tak perlu memikirkan acara yang tak ada manfaat materiil untukku. Untuk apa aku bersusah payah pulang-pergi tiap akhir pekan ke tempat terpencil ini demi memburu peserta?? Demi apa aku rela membuang waktu istirahatku untuk memikirkan acara ini?? Dan demi apa aku mengesampingkan kewajibanku terhadap dosen dan menomorsatukan kelancaran acara tersebut tanpa memperhatikan efek sampingnya untuk masa depanku????

Tuhan, aku boleh mengeluh lelah? :(

Sabtu malam ini aku harus berkutat dengan laptop, absensi, rekap data peserta, dan segala hal yang berhubungan dengan tugas seorang KSK -___-
Dan sang kekasihpun tak berhasil mengobati letihku, gundahku, peluhku, malah ia menghabiskan malam panjang ini dengan nongkrong bareng teman-temannya...

Sedari tadi teman satu kamarku juga tak peduli dengan apa yang aku lakukan pada laptopnya. Ia sedang asik melepas rindu dengan kekasihnya nun jauh disana meski berulangkali ia mencibir sinyal yang buruk di pedesaan. Hahahahahahaha. Rasakan kau!! Akhirnya ia juga merasakan gundah yang sama sepertiku, tapi ia lebih beruntung dengan ditemani seorang kekasih meski lewat sebuah media elektronik. Darupada aku yang sedari tadi bicara dari hati ke hati dengan benda mati bernama laptop dan modem -_____-

Mungkin hanya ini yang mampu membuatku kembali semangat dan bangkit....
jargon MEDSPIN 2011 :)
***
Selamat Malam Jombang :)
Bismillah...Aku siap menghadapi esok :)
***


*sahabat tercinta: si kriwul :p

Sunday, October 16, 2011

Ketika jenuh..

Muaraku kembali merintik. Kali ini terdengar gundah. Maaf menguntai setiap khilaf yang tersirat. Kubiarkan nafasku meyakini ikrar yang terucap dari bibirmu. Inikah akhir kita? Entahlah. Separuh jiwaku memberontak kepada waktu. Mengapa detik tak berujung ketika tirai malamku tersingkap. Diantara ragu yang menjejali hati, aku tak sanggup beringkar. Kan kubawa setitik hatimu kedalam laksana gaung kasihku. Senada dengan irama senyum yang senantiasa terdengar merdu ketika cintamu menyambut pagiku.

Monday, July 18, 2011

Tak Berpemilik

Tertunduk dan terenguh.
Hanya sekejap waktu.
Kubenamkan wajahku sejenak.
Lantas aku tertawa.
Tak ada sindiran ataupun makian.
Namun hampa ketika kupandang.
Nyaris menyeret tubuhku untuk berdusta.
Segenap hatiku memberontak.
Kakiku tercapit belukar reragu.
Sempat tak kugubris saat alurnya menjerat langkah kecilku.
Kupaksa ia untuk melangkah.
Melangkah dengan cemas.
Waktu telah kukembalikan pada Tuhan.
Dan kini aku menghampa.
Terperosok dalam rasa yang kuciptakan sendiri.
Tak berpemilik.
Padahal aku lihai mendeskripsikan tiap warna dari tatapanmu.
Namun kini sungguh aku menyerah.
Tak sanggup lagi aku mengartikan tiap senyum yang kau kirimkan padaku.
Segurat lengkungmu nampaknya masih membuatku trauma.
Kau, yang tak lagi berpemilik.
Hadir kembali untuk mengacaukan hatiku.

(Juli - 2011)

Monday, July 4, 2011

Sore yang Gundah

gemeletup hasrat mulai menghampa.
seiring senja yang asyik menyapa luka.
betapa sore menggundah tiada arah.
mengerutkan wajah sendumu yang merah merona.
kupikir malam tadinya sempat berkeluh kesah.
melamunkan esok yang belum tentu cerah.
hingga senantiasa enggan menghadirkan kisah.
menyisir kenangan pahit bersama segelintir lara.
desiran nafasmu kian menggelora.
selaras kebekuan hati ketika menjemput asa.
sore yang gundah.
kusapa dirimu di sela temaram merah.
kuharap ini terakhir kalinya.
kau menghadirkan duka diantara senyuman paksa.


                                pict by: Adinda Retna Pradini
                                       device : Samsung Wave 525
                              model scene : sunset

Adinda Retna Pradini
(Juli - 2011)

Sunday, May 15, 2011

lengkungan palsumu

Kuakui, diriku masih terbelenggu tiada daya dalam lengkungan palsu yang mirip dengan senyummu.
Memang benar adanya, segurat garis membusur milikmu sanggup memabukkan sekuntum harapan yang baru saja mengembun di dalam kelopak laraku.
Hingga langkah kecil ini tertahan manis di jurang persimpangan dan tak mampu menginjakkan kepastian pada jejak putusan.
Entah mungkin kau akan sangat puas menyaksikan hamparan kegundahanku.
Namun lagi-lagi segurat garis lengkung berhasil memoles indah rona kesadisanmu.
Pantas saja, luka di batin ini tak kunjung mengering.
Harusnya ku sadar sendiri, meski pahitnya memaksa nurani untuk segera pergi.
Dan senja hari ini masih saja termenung, seakan mengasihani diriku yang enggan untuk menyambut separuh kegelapan, dimana langitku sudah tak terhias bintang darinya lagi...



Teruntuk:
sesosok bayangan pendusta di akhir penantianku yang malam itu tak henti-hentinya tertawa lepas dengan ditemani secangkir dingin kopi hitam pujaannya.

prologue

sosok pendusta dengan secangkir kopi hitam di genggamannya

lambat laun genggamanmu akan melemah, lantas kau jatuhkan cangkir dan kopi itu

lalu kau bergegas mencari sesuatu yang lain untuk menggenggam tanganmu, kau tinggalkan kepingan porslein dengan bercak hitamnya begitu saja

kau temukan lagi sesuatu yang berbeda dalam genggamanmu, tak berapa lama kemudian kau akan melepasnya, begitu terus menerus dan berulang-ulang

hingga suatu hari kepingan yang hancur lebur itu akan berbalik menyerangmu, bahkan membunuhmu,,dan itulah saat yang paling kutunggu-tunggu

kau merintih dalam nistamu, bergegas kau ulurkan tanganmu kepadaku, namun aku menepisnya, dan secepat kilat aku melenyap dari pandanganmu

tak hanya nista yang kau dapat, tetapi juga karma!!! di tengah cercaan serta gelak tawa mereka yang juga sepertiku, kau memohon padaku untuk sebuah pemaafan

sebenarnya bukan itu yang ingin kusangsikan, karena matamu terlalu cerah untuk mengerlingkan sesal abadi

lekas beranjaklah dari dustamu, sayang, raihlah cinta sesuci kau meraih pemaafanmu kembali, bukan, bukan dariku, melainkan dari yang Maha Kuasa

Saturday, May 14, 2011

Saya Apatis

Katakan saya apatis
Ataupun pecundang, loser, pemimpi, si terjatuh..
Kata apapun yang kau punya untuk menggambarkan seseorang yang patah hati
Patah hati dan mentertawakan cinta
Mencemohnya dan membuangnya jauh-jauh
Muak mengingat kata-kata
Sakit mendengar lagu-lagu
Dan benci mendekati cinta

Love is the biggest bullshit in human life
Believe me
Tidak ada yang lebih semu dari ilusi yang ditimbulkan cinta
Tidak ada yang membuat sakit dan patah lebih parah dari hati yang putus cinta
Karena cinta tidak lebih dari efek psikologis dan efek kimia dari otak semu manusia

 

Friday, May 13, 2011

3 Mei 2011

terhenti sejenak, menepi di bawah rerimbun jantung kota
lalu lalang kotak baja membising, seakan bertarung deru denganku
sinar terkadang mengintip dari celah dedaun yang masih hijau
tertegun memandang beberapa sudut itu, dimana kita pernah meraihnya bersama
nampak sekilas senyum kita samar-samar,
menyusuri jalanan berdebu,
menghitung kerlap-kerlip lampu kota,
menunjuk bintang terindah pada malam milik kita
namun kutahu itu dahulu
nyatanya angan berusaha menipu mataku
dan rupanya aku terlambat menyadarinya
***
"summer has come and past, the innocent can never last, wake me up when september ends..."
melodi ituuu... :(
***


Surabaya, 03 Mei 2011, sidewalk Hotel Tunjungan pukul 12.23

Saturday, February 12, 2011

Biarkan aku menatapmu dari kejauhan ..

Dan biarkan aku menatapmu dari kejauhan
Tak perlu kau berdiri disekitarku sekarang
Langit juga tak akan berkutik dengan rindu ini
Sesal merasuki rongga batinmu dan kau berkata : ''Mengapa aku harus menemuimu?''

Tiba-tiba langit beranjak kelabu
Sang guntur seperti mengisyaratkan gambaran hatiku
Ia mewakiliku untuk menjawab segala penat dalam benakmu
Jelas, lalu kau pergi tanpa isyarat

Sesaat membisu, sambil memandangmu berlalu, aku membatin :
''Biarkan aku menatapmu dari kejauhan''

Thursday, February 10, 2011

Bed rest's note

Terbaring lemah di peraduan, menunggu keajaiban sebuah doa. Dariku, dan mungkin darinya. Sekecil apapun terasa sangat memeras otak. Bukan mengeluh namun mengadu. Pening ini bertolakbelakang dengan aktivitas. Tak padat juga tak jarang. Setengah-setengah saja ...

Ditemani sebaris benda kecil ajaib ini, aku merebahkan diri. Segala sesuatu berputar-putar, tampak disekeliling. Seluruh raga ini tak berdaya. Oh Tuhan, hamba bersyukur masih sanggup merasakan nikmat sakit dari-Mu ...

Lantunan syair merdu, gubahan sang kekasih hati, terdengar menggema di sudut-sudut ruangan. Menemaniku beristirahat panjang untuk siang ini. Tak lupa sang pengantar pesan tergeletak disampingku. Mungkin sebagai hiasan, tapi dirasa sangat ampuh mengusir penat.

"Meski jarak memisahkan raga kita, namun hatiku tetap jadi milikmu, Oh Tuhan kabulkanlah semua doa, kuatkanlah ku tuk dirinya.....Dinda...". Alunan bait demi bait syair yang terbalut nada tsb menari-nari di telingaku. Merdu, dan sangat bermakna. Sebuah hasil karya sang pujaan hati yang didedikasikan untukku. Mungkin terkesan biasa dan tak bernilai. Tetapi bagiku itu sangat ampuh meluluhkan sisi cuek diriku. Hmmm..dan kini aku begitu menyayanginya :)

Mata ini semakin berat saja. Dan nafas sepertinya juga tak mau kalah. Oh pening sekali rasanya...Lalu sebutir benda kecil ajaib kupaksa melesat ke dalam perutku. Memejamkan mata, dan berharap akan datang sebuah keajaiban, entah nanti atau setelah ini.


(Adinda Retna Pradini, #bed rest's note)

Wednesday, February 9, 2011

#flashback - sebuah ungkapan kegundahan

''dan aku akan tetap
sendiri seperti ini . . .
sampai kau kembali
menjemputku dari
kesepian
mengajakku melihat
warna indah dunia
menunjukkan aku pada
wangi bunga yang sedang
mekar
memberitahuku tentang
suara gemuruh ombak di
pantai
semua itu ingin aku
dengar, cium, dan
rasakan
setelah sekian lama tak
pernah ku lakukan lagi
bersamamu . .
kemanakah hilangnya warna
duniaku ?
kemanakah perginya wangi
bungaku ?
dan kemanakah hilangnya suara
ombak itu ?
kembalilah . .
semua itu serasa
menghilang, ketika kau
tak ada disini
pulanglah, dan temani
aku merasakannya lagi
aku menunggumu
kembali, sayang . .
aku merindukanmu :("

(Adinda Retna Pradini, 28 Juni 2010)


Sebuah sajak ku tulis ketika kegundahan merasuki kalbuku. Tepat pada tanggal 28 Juni 2010, ketika jiwa sedang dirajai oleh kesepian. Waktu itu sang belahan hati entah pergi kemana, dan entah mengapa juga tiba-tiba membiarkanku seakan ia jenuh padaku. Malam itu, diiringi tetesan kerinduan dan percikan kegundahan, aku menulis bait ini. Sebuah syair yang ku tunjukkan untuk sang pencipta rinduku. Sebuah ungkapan sederhana tentang kegundahanku pada belahan hati yang perlahan menjauhiku, sebelum akhirnya ia benar-benar menghilang 'sejenak' dari hidupku :(

Monday, February 7, 2011

hampir mati rasa ..

hampir mati rasa
atau mungkin sudah?
entah
aku jenuh
namun aku masih berharap
mungkin kau tak mau salah
ya, aku yang selalu salah
dan aku yang harus mengalah
aku jenuh
aku hampir mati rasa
lanjutkan petualanganmu, boy
kau akan tahu akibatnya nanti

Saturday, February 5, 2011

Sekilas

Sekilas mendung tercerai-berai di langit jiwa. Kupikir ia akan membunuh waktu singkatku. Namun, sang mendung ternyata meneduhkan. Ia tak menumpahkan petir yang menusuk. Melainkan hanya gumpalan awan kelabu dan desiran angin yang mengetuk kalbu.

Sekilas ia nampak menakutkan. Seringainya menyerukan 'akulah sang penguasa'. Kemudian aku berlari, tetapi sang mendung tetap saja mengikutiku. Di dalam ketakutanku ia membelai wajahku. ''Tenang saja, aku tak akan lama singgah di langitmu'' ucapnya sembari menghilang. Gumpalan kelabu pun semakin memudar. Sedikit demi sedikit langitku sudah terhiasi lagi oleh sang bintang.

Aku memanggilnya, namun tak ada jawaban. Ku ulangi sekali lagi dengan lantang namun tetap saja, nihil. Nampaknya sang mendung benar, ia tak akan singgah terlalu lama...
Ya, hanya sebentar..
Dan hanya sekilas.

Thursday, February 3, 2011

Kerinduan Sang Bulan (part. 3)

Dan Sang Bulan mulai meresah. Malam ini hujan tak singgah. Namun mengapa Sang Bintang tak jua datang? Beribu tanya muncul menggores benaknya. Sakit. Sang Bulan bahkan tak tega membenci waktu. Detak jantungnya perlahan melemah, mengiringi detik kerinduan yang terpaksa ia telan. Baginya malam ini tetap sunyi. Meski lampu kota berkedip riang, sorak mesin menderu hebat.

Dan Sang Bulan pun mulai terisak...


***

Setitik cahaya menghentikan tangis Sang Ratu Malam. Ia menoleh, dan cepat-cepat beranjak dari kegundahan. "Aku datang" ucap cahaya itu. Sang Bulan kembali meraung. Namun kali ini bukan gundah. Sang Bintang telah pulang. Yaa, penantian panjang itu nampaknya telah berakhir malam ini :)

Kerinduan Sang Bulan (part. 2)

Kurasa belum cukup untuk pagi ini. Dalam benaknya, sang bulan masih tersungkur menanti malam. Meski saat ini bukan waktu yang tepat untuk merindu. Bayangnya seakan menari-nari dalam keresahan. Mencabik penantian hingga membuatnya menyerah. Ia tahu, nafas ini tak akan lama lagi. Namun sepercik harapan telah ia raih bersama dengan gundah, lagi-lagi tentang kegundahan.

Betapa tidak, secercah senyuman nyaris sirna sejak Sang Bintang pergi. Rupanya sudah tak tersisa lagi, lalu Sang Bulan beralih. Ia mengeluh pada dirinya. Dengan sedikit tangis di genggamannya, ia meminta pada Sang hujan. "Kumohon kau jangan datang malam ini, aku ingin bertemu Sang Bintang".

Kerinduan Sang Bulan

Bulan malam ini sedang mengeluh. Dirinya harus terpaksa menahan gemuruh rasa yang berbaur menjadi satu. Cahaya nya memburam seketika, walaupun ia sebenarnya juga lelah menyinari kegelapan. Tampaknya sang bulan sedang merindu. Langkahnya menjadi tertatih ketika gelap semakin mencapai titik terujung.

Sejenak sang bulan beralih dari singgasana. Dipandanginya sosok istimewa dibalik pigura merah. Sesekali, ia mengharap agar dapat merogoh waktu. Lagipula tak ada yang mampu mengurungnya selain gejolak rasa yang mencekam, seperti malam ini.

''malam ini aku sedang merindukan Sang Bintang'' ucap Sang Bulan.

Tuesday, February 1, 2011

Gundah pada Separuh Jiwa

Malam ini rasanya gundah. Aku paham, separuh dari jiwaku tak ada di sekitar. Ia sedang berkelana memuaskan batin dan tak sadar bahwa gerak jantungku menandakan kekhawatiran akan keadaannya. Itulah sang adam. Mereka menghapus duka dan lelah dengan menapak kepuasan yang tak menyudut. Baginya itu bukanlah gambaran kepalsuan. Meski tak semua pijakan itu menyegarkan naluri.

Sunyi pun tak sanggup menempati separuh jiwaku yang kosong ini. Entah, apakah mereka menyerah beradu dengan bimbang. Inginku, malam ini dingin mampu membekukan segala kegalauan. Agar gelagat kerinduan untuk sang belahan jiwa dapat terbendung.

Ya Allah, semoga dia disana baik-baik saja.