Showing posts with label kamu. Show all posts
Showing posts with label kamu. Show all posts

Sunday, April 8, 2012

tam-tim-tum

tam-tim-tum
kueja kamu layaknya kosakata
sesambil melumat bolu isi cokelat
persembahanmu
yang kerap menghuni selasela gigi
di kubus remang itu
kuning-muda-hijau-tosca
kau memelihara rinduku
sehengkang demi hengkang langkah
turut menahan kenang
pun jejak kecupmu di kening
di seantero wajahku bergetar
harapan nan berjudul sesiapa
lekas menghampar seketika kau pergi
dan empat belas hari yang terbilang singkat
bagiku itu sebuah hilir ingatan
berujung pada benderang
sekejap gerimis bertandang
di ruang penghabisan
aku mengeja namamu lagi
tam-tim-tum

buat seseorang yang berinisial
***


(April - 2012)

Tuesday, March 20, 2012

ini candu

ini candu
yang kugeletakkan disamping tumpukan sampah kenangan
berdekut dihunus lampiaslampias abu yang nyaris gontai
teridap kesakitan oleh sajak cinta terdungu
berdiang di kelopak ternanar bak sesepat ampas gerigau

"ini candu yang kupinjam darimu dulu, sekarang kukembalikan padamu"

Thursday, March 1, 2012

serupa kabisat

aku merindui sketsa dekapanmu yang bagiku ia serupa jelaga beraroma picisan
yang bilamana hendak kulukis merah senja di pelataran sukmanya, seketika matanya memancarkan gradasi pelangi
aku merindui patahan jenuh yang kaurekatkan dengan ikrar bak galaksi yang tak mungkin berpisah dari langit
meski sebelumnya telah kuketahui bahwa semua itu akan musnah, seiring waktu berjalan

aku teramat mencintaimu, sayang. bukan sebab ini kabisat pertama kita. sebab, kamu tak hanya langka seperti kabisat, yang tak banyak orang punyai kesetiaan yang sama dalam menanti kehadirannya. kamu, serupa janji yang kuselipkan di jemari manis ketika fajar memerahkan pipiku. kamu, serupa lukisan yang kupajang di dalam ruang tamu rumah masa depanku. kamu tak hanya indah, sayang, kamu itu lebih dari indah :*

terimakasih untuk keajaiban yang Allah ciptakan hari ini dengan menghadirkan kamu sebagai perantaranya. aku sayang kamu. bolehkah aku cantumkan namamu disini, Paradita Winenda Aditama? iya, disini, di kalender hatiku, tepat dibawah angka kabisat itu :*

Tuesday, February 28, 2012

(bukan) sedang ingin menyendiri

Duduk menyendiri di tempat ini, sudah bukan hal aneh lagi bagiku. Bagi seorang "penikmat kesendirian" sepertiku, sebuah julukan konyol yang diberikan seorang kawan untukku. Hahaha. Acuhkan sorotan mata mereka yang berulangkali mencoba menelanjangiku dari ujung kerudung hingga ujung kaki. Aku tak peduli. Kebisingan diluar, bagiku kehampaan didalam. Ketika dua keadaan tak sinkron harus dipaksakan berjalan beriringan. Mungkin untuk saat ini, aku memang sedang ingin menyendiri...

Seteguk demi teguk Caramel Macchiato dingin mengguyur gersang di kerongkongan. Terik yang langsat memaksa labirinku menampik kontras cuaca, antara hati dan langit hari ini. Sebuah perasaan bersalah memataharikan ego. Menguasai hamparan angkasa batin dengan serakah...

Selasa, 28 Februari 2012. Maaf atas kecerobohanku hari ini, sayang. Aku benar-benar tak pernah ada maksud hati untuk mengecewakanmu :(

Wednesday, February 1, 2012

Kidung Cemburu

semula berkarib gelisah
tak sempat menafsirkan redup
pun kelak diibaratkan lentera
menyulut
mengecam
kuarsa yang dikekang
sudutsudut kedap suara

jikalau kakikaki malam merenggutmu, tuan
dan tak sempat
tuturkan gurat keyakinan
bergegaslah merajuk
rembulan yang sederhana
untuk sekerat pintamu
akan dipahaminya

wahai tuan
pemilik binar menghangatkan
kunjung meraup fajar
tak apalah
asal segera menyirna
dan lekaslah pulang menggandeng fajar
biarkan merahnya
menyeduh ringkih
cemburu ini
untuk rembulan yang mengagumimu

(Februari - 2012)

Monday, January 23, 2012

Lekas Sebelum Berujung

bersemayam menyusun katakata
dilompatinya takdir di jendela
abaikan kuasa di balik pintu
kemudian langit memainkan melodi sendu
sesaat setelah memasuki beranda
penuh semburat
akibat bercak mengendus lumpur
diterjang deras yang mengguyur

riak hujan buruburu menepis kabar
memudarkan muasal warna jingga
yang kakinya tak sempat mencium tanah
bekas singgahan julurjulur api langit

lekas, mengalirlah ke muasal hulu
dan genangi kesunyisenyapan waktu
lekas, pasti bergegas ranum
sebelum jengah merangkak ke hilir
segera kuketas khawatir ini
dan kau
lekas beranjak sebelum berujung

---

"sayangku, aku tak mungkin beranjak kemanapun. disinilah tempatku untuk berpijak. iya disini, di segenggam cita-citamu yang berbalut harapan dan kepercayaan. disanalah aku akan abadi"

(Januari - 2012)

Saturday, January 14, 2012

Aku menyebut ini "entah"

Aku menyebut ini "entah". Entah kenapa batin ini sangat nyaman dengan kondisi seminggu yang jauh dari rasa rindu. Entah kenapa mata ini begitu biasa saja ketika menatap layar ponsel tanpa hiasan pesan yang datang darinya, kekasihku. Aku menyebut ini "entah". Entah kenapa ada gejolak rasa yang menyatakan bahwa inilah cara kita untuk saling mencipta rindu. Aku paham jika kamu sudah lupa bagaimana cara mencipta rindu yang selalu membuat tubuhmu bergetar, hatimu resah, dan pikiran yang tak tenang. Aku juga tak bisa mengelak jika kamu berkata bahwa jenuh tengah merasuki sisa-sisa otak yang penat akibat kesenjangan kita. Bahwa sebenarnya rindu seperti itu sangat ingin kamu alami lagi. Bukankah ketika malam mengetuk langit kata "rindu" itu selalu terucap dari bibirmu? Bukankah rindu itu harusnya tak perlu dikekang dengan sebuah pertemuan?

Aku menyebut ini "entah". Dua puluh empat jam aku memalingkan tatapan dari sekelumit hal yang melukiskan tentang kamu. Melenguhkan napas perlahan ketika mendapati bayangmu mulai melintasi pikiranku. "Hey, tolong hentikan!! Aku sedang tidak ingin merasakan rindu" begitu ucapku. Entah kenapa jemariku mendadak amnesia memainkan frasa-frasa yang sebelumnya ia tak perlu berpikir ulang untuk menguntaikannya. Apa lagi kalau bukan membuat sajak untukmu, iya kamu, kekasihku. Tak henti-hentinya bibir ini menggeletuk angkuh pada sekotak langit yang dingin dengan beribu takdir yang kerap membisu. Hanya ketukan gerimis yang menggema, selain itu alpha. Mungkin genangan air hujan diluar menantimu untuk menyibakkan separuh kejenuhan.

Tolong, berhentilah berkata "entah". Meski aku enggan untuk memberimu alasan mengapa aku tak ingin meninggalkanmu. Gerimis ini terlalu sendu jika harus kupasangkan dengan senja. Rintik yang tak seberapa ini tak boleh mendekap kejinggaan setiamu. Aku beranjak dari entah yang selalu kuteriakkan dalam batinku, dalam kosongku. Dan kini, telah kuhadirkan kembali sosokmu. Pelengkap kebahagiaanku. Aku berjanji akan menghapus "entah" dari kesanggupanku. Mungkin aku segera menjejakkan kakiku pada bukit rindu yang disana telah berdiri sosokmu yang siap untuk memelukku, kemudian.

***
Untuk "entah" yang selalu terucap dari bibirmu, aku mencoba untuk menghapusnya malam ini, mungkin dengan bibirku

Teruntuk: Kekasihku

(Januari - 2012)

Tuesday, January 10, 2012

Prahara Hati

kubutakan jalanmu
      biarkan nalarku menuntun
            sepakat menyisir luka
            tanpa aroma
yang kutatar dalam memoar sepinggan
           dan sebelumnya
telah kusibak agar tak mengepul

ingin kurengkuh kemudian
           sepotong senja
           akibat bualanbualan sore
yang merekah tanpa pesan
menjejak tanpa sembilu
dalam bisu menanti gerhana

kukembalikan waktu asalku
yang hampir meretakkan
         sebuah komitmen
prahara selanggan kita
         di sekujur hati
sempat membising menggaung
hingga terkutuk oleh saduran riak hujan
terbatabata kau hembuskan
        sisa napas kemarin

oleh karna ketiadaan itu
jejakmu kian membekas meranggas
        dan perlahan luruh
        di tepi amarah
membinar sayu kelopaknya
        dahannya
         akarnya
sungguhpun egomu enggan untuk bergulir

'kan kunjung menguap
        namun kusiap kehilangan
        ketika ikhlas membebat hati
        biarkan ia merengkuh pekat
        dan lenyap
meski prahara s'lamanya dihati

***
(aku bodoh jika aku belum siap kehilanganmu)

(Januari - 2012)

Sunday, January 8, 2012

Singgasana Baru

menerjemahkan tiap ulasanmu
kutemui singgasana baru
membenam selaksa
terbitkan aksaraaksara gairah
tersulut untuk geram
pada sesanggupanmu

kala tetapak melintas
serinai di muara baru
yaitu rindu kelu
teriakkan rasa
geletup awan memendar pelan
akankah abuabu berkuasa
pada siang yang langsat
agar ia tersipu pada angkuhnya

singgasana yang baru
Tuhan bersedia titipkan ragumu
di sepetak kalbu
tanpa luruh

***
singgasana yang baru di hatimu, untukku :) ♡

(Januari - 2012)

Thursday, December 29, 2011

I have you :)

I have you.
A lover and a friend.
You’re everything I need.
You complete me.
Really, you do.
You make me feel loved.
With everything you do.
You’re the star, the sun, the air I breathe.
Without you, life wouldn’t be the same.
Please don’t ever go away.
And if you go, then don’t forget to take me with you.


Love you so damn :*

Wednesday, December 28, 2011

Koma

Nyeri menjalar ke seluruh tubuh.
Menghantam jantung, mungkin melukai.
Napas sudah tak bersisa lagi.
Sempit untuk sekadar berhembus.
Dingin menelusup masuk untuk membekukan.
Segalanya, termasuk memori.
Tubuhku disini entah jiwaku.
Seperti menerawang tanpa arah.
Kutatap sekeliling, dimana aku?
Rupanya hanya sepenggal mimpi tak berjudul.
Tetapi, mengapa tubuhku masih saja kaku?
Tiada daya, tiada rupa.
Mati rasa disini.
Menyambut separuh roh ku yang terpisah.
Dan juga hatiku.
Yang terbawa separuh olehmu.
Tubuhku mengatup, kemudian layu.
Siap meraih titik akhir dari segalanya.
Meski kini masih berhenti sejenak pada koma.

(Desember - 2011)

Seperti Bintang

Yang tak kusadari, berawal dari gelap.
Ia pekat.
Serasa hampa dan alpha.
Belum lagi dingin hingga membuatku menggigil.
Ah, sejak awal aku memang membenci malam.
Meski tirai gerimis menggenangi kelamnya.
Tetap saja aku membenci.
Dan malam itu kau tersenyum menawan.
Ada frasa yang sulit untuk dijabarkan.
Tampak asing.
Dengan segumpal temaram cahaya.
Aku tertegun sejenak.
Kerlip itu...
Akankah kau muasalnya?

(Desember - 2011)

Sunday, December 18, 2011

gerimis di sabtu malam

gerimis di sabtu malam
sembari mengingat sebuah sapa
yang tak kujumpa sejak mentari merekah
hingga rerintik di senja yang jingga
pun kini dikuasai oleh hitam pekat
di selasela tersungging menyimpul
senyum di parasnya yang kerap kali membuatku rindu
terpapar di kedua sudut membiru
buatku merajai waktu
     dan lantas mengharu
duabelas kali enampuluh menit berlalu
gerimisku tetap tanpa sapa darimu


ditulis ketika gerimis, sembari menanti sebuah pesan darinya yang belum memberi kabar dari pagi
(Desember - 2011)

Monday, November 7, 2011

tiga bahagia ditambah satu sengsara = hidup penuh warna -___-

Abaikan soal judul di atas. Nggak usah mikir sampe buka kamus aljabar buat nyari rumus itu. Dijamin gak bakal nemu -___-

Jadi, semuanya berawal dari hari Jumat 4-Nov-2011 *cliinnnnggggg* *keluar asap putih* (ceritanya ini lagi flesbek). Jumat kemarin aku, kriwul sama mbak donat ngadain pertemuan kedua buat mbahas tentang kelanjutan buku kami. Ehemm *ngemut permen mintz*. Bener-bener salut buat mereka berdua, ujan-ujan berangkat dari Malang dengan boncengan pake motor cuma buat menuhin janji ketemuan sama aku. Hiks, terharu...akhirnya bisa ketemuan bertiga lagi. Dan yang lebih terharu lagi, rambutnya si kriwul udah kayak helm astronot. Lebat dan berisi.

Tema pertemuan kami kali ini tentang rencana penerbitan buku yang udah jalan sekitar 40%. Alhamdulillah..tinggal ngurus kelengkapan dan administrasi. Oh, iya hari itu kami ketemuan di salah satu restoran cepat saji, TOBY'S namanya. Kenapa dinamain TOBY'S, mungkin pemilik restoran ini namanya Bambang atau Gleen atau Joni atau siapapun lah bukan urusan gue. Oke, kembali ke topik. Di pertemuan itu, si kriwul mempresentasikan hasil dari pekerjaannya sebagai Editor di Donat Sastra. Trus lanjut ke pokok tema tentang 40% perjalanan buku kami bertiga. Ehemm *ngemut bungkus permen mintz*.

tiga penulis rempong nan syarat akan kegalauan
Nah, karena itulah aku mendedikasikan hari Jumat sebagai hari bahagiaku yang pertama di bulan November ini ~



Monday, October 31, 2011

Sekianmu dan Sekianku

Sekianmu dan Sekianku.
Bertolakbelakang dengan alasan pasif tentang rindu di sepetak keacuhanmu.
Karena jika kulapangkan tempat dimana kusimpan senyummu, mungkin jarak ini sudah bukan penghalang kita lagi.
Tak perlu jalan berliku untuk menggenapi kegundahanku.
Dilema yang menampar egomu sudah cukup membuktikan bahwa kau memang acuh.
Sekianmu yang kian memaksa aku untuk menumpahkan muara tangisku.
Sekianmu yang menempatkan aku di posisi terujung tanpa selimut bayangan.
Sekianmu yang acapkali menggoreskan pemaafanku.
Sekianmu dengan sekian basa-basi palsu.

Sekianku yang pernah kuutarakan ketika senja menutup aroma kemerahannya.
Jarang lagi terdengar ricuh dan gaduh saat mata kita berseteru dengan bisu.
Lengang, kalanya membentur keterpautan dari sekianku.
Meski parasmu menampik apa yang terjadi.
Sepersekian detik kemudian tak mampu lagi berpaling dari sekianku.

Sekianmu yang perih dan sekianku yang lirih.

(Oktober - 2011)

Saturday, October 1, 2011

Dimensi Rindu

sungguh, ini sebuah dimensi rindu yang menyiksa
tak kuasa hatiku untuk menjelajahi segenap pinta yang ada
hangat terlukis lewat parasmu, wahai lelaki bermata senja
redup tatapanmu sanggup menghias langit-langit kerinduan
meski hadirmu bagaikan segenggam khayalan yang lekas sirna
namun sungguh, rindu ini benar-benar nyata dan menyiksa :(

Surabaya, 30 September 2011, 23.54 WIB
dedicated for : Paradita Winenda Aditama :*



kangen :(
2 minggu nggak ketemu sama mas ganteng :(
maaf yaa kalo aku jadi agak sibuk sekarang
nggak hanya aku, kamu pun juga tambah sibuk karna mulai bulan ini ikut kuliah malam
semoga kesibukan kita nggak jadi penghalang untuk ketemu dan saling melepas rindu :*
Love youuuu :*

Wednesday, August 31, 2011

malam takbiran kali ini :)

nyanyi sek..
"Selamat Hari Lebaran, Minal Aidzin Walfaidzin, mari bersalam-salaman, saling bermaaf-maafan, nananananana lalalalalalala uuuuuuuu huwoooo" (kata terakhir sebenarnya alibi, aslinya nggak ngerti lirik lanjutannya)

Kumandang takbir menggema di seluruh pelosok negeri tercinta kita , Indonesia. Nggak usah jauh-jauh deh, sepanjang perjalanan atau rute dari rumahnya mas Adit sampe rumahku tadi yang terdengar cuma suara takbiran, entah itu dari corong masjid atau dari pawai sepeda motor anak-anak muda yang bawa kentongan dan galon. Alhamdulillah yahh besok udah lebaran..sesuatuuu banget. Oh iya, sebenarnya aku ikut lebaran yang dari anjuran pemerintah yaitu hari rabu, dan seharusnya untuk hari selasa ini tetep puasa, tapi apa dayaaa satu rumah nggak ada yang puasa dan akhirnya aku juga ikutan nggak puasa..hehehehehe. Oleh sebab itu siang tadi aku main ke rumahnya mas Adit, sekalian silaturahmi sama mamanya. Daaaaaan jam satu siang yang nggak seberapa panas aku capcus ke rumahnya. Sambil bawain dua bungkus tahu campur bikinan ibuk. Yaa seperti biasa kalo pas aku main ke rumahnya mas Adit, aktivitasku yaa nonton tipi, gepuk-gepukan pake guling, numpang pipis, makan maicih berdua, pencet-pencetan hidung, jambak-jambakan rambut, dll. Tapi yang paling berkesan itu pas sholat berjamaah, soalnya diimami mas Adit :3. Karena ini pertama kalinya semenjak jadian :)

Selepas maghrib, maem tahu campur yang aku bawain dari rumah dan setelah itu lanjut nonton pilem kartun di MNCTv. Dua jam kemudian. Ternyata perutku krucuk-krucuk lagi. hehehehe. Akhirnya jam 9 malem keluar rumah nyari nasi goreng bareng mas Adit. wussuss jam segitu masih di rumahnya orang? Tenang, mamanya mas Adit malah suka kalo ada anak cewek yang main ke rumahnya. Maklum, dikaruniai dua anak cowok semua. Jadi, kalo pas aku main kesana malah biasanya nggak dibolehi pulang. heuheuheu.

Lanjut ke nasi goreng. Dari seminggu kemarin aku beneran ngidam nasgor. Sekalipun hari ini tadi keturutan, ternyata rasanya parah banget. Nggak tahu kenapa tadi mas Adit tiba-tiba nawarin beli nasgor di perempatan jalan Pakis, berseberangan sama Indomaret. Kondisinya nggak memungkinkan banget karena cuma disediain kursi tanpa meja, udah gitu pastinya nggak nyediain minuman. Untungnya ada Indomaret, jadi beli minumnya disitu deh. "Mau minum apa, ndud?". Puersiiis kayak waitress deh diaa. hahahahaha. Aku cuma pesen air mineral dingin lho padahal, ehh ternyata juga dibeliin es krim Paddle Pop coklat sama mas Adit. Huaaaaaaaaaaaaaa you are so sweeeeeeeet darliiing :* #jogedkayang

Kembali ke nasi goreng. Ngomong-ngomong tentang rasa nasgor kali ini. Sumpah, mengerikan. Baru tau ada nasi goreng dikasih daun bawang. Omaigaaad paklek nasgor, daun bawang bukanlah ide yang tepat untuk membuat cita rasa nasi goreng anda menjadi nikmat. Apalagi ukuran daun bawangnya gede-gede kayak yang di dalem martabak telor. Alhasil makan sambil milah-milah daun bawang. Udah gitu harganya seporsi 7 rebuu, yassalaaaam..nasgor gak enak kayak gitu harganya 7 ribu rekk *ngelus pantat*
Semoga malam ini Allah melariskan daganganmu paklek nasgor, amiiin (mending berdoa daripada memaki-maki pakleknya). oh iya tadi pas perjalanan pulang dari beli nasgor aku sama mas Adit sempet takbiran sambil naik motor. Sayangnya lupa nggak bawa galon kosong buat tabuhannya :(

Rasanya nggak kepingin pulang :) mesti kerasan kok kalo udah bareng mas Adit . Yah alhamdulillah banget tahun ini masih bisa merayakan lebaran, apalagi ada anggota keluarga baru, mas Adit dan keluarganya :)

Alhamdulillah mari sunggingkan segurat lengkung kita, memanjatkan doa dengan mengucap "Taqabbalallahuminha waminkum taqobbalallahu yaa karim", tidak lupa memohon maaf kepada seluruh umat di dunia, maaf apabila ada salah kata baik disengaja maupun tidak. Semoga di hari yang fitri ini kita mampu menjadi pribadi muslim yang lebih baik lagi :)

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1432 H
MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN :D
dindud sekeluarga

Wednesday, June 22, 2011

Cahayaku

Ketika aku menggigil
sebab dingin
meronta pada hulu nadi

sebentuk kehangatan hadir
di sela-sela
nafas ini.

Meski ia asing
namun kuakui
separuh degupku
meracaukan tentang hangat
yang mengilusi
mata batinku.

Mungkin terlalu siang
namun kurasa telah malam

aku membeku
dan sinarmu menghangatkanku.

Kaulah cahaya itu
menghangatkan
sekaligus menentramkan

Dan kini kau milikku, cahayaku

(Juni - 2011)
*mencoba model penulisan baru*

Saturday, June 11, 2011

Tentang Bintang :)


"tetep dilanjutin ya nulisnya.

nulis itu jiwamu"
--kamu, 08 juni 2011--



nggak akan mungkin aku berhenti nulis dengan alasan konyol itu, percayalah. itu hanya sebuah kata-kata ilusi dalam sajakku saja. jari-jari ini akan berhenti menari dengan sang pena jika syaraf-syaraf di tangan ini terputus, atau membeku, atau mati rasa. segalanya akan berubah ketika inspirasi sudah musnah dari bumi ini. dan kenyataannya, inspirasi nggak akan pernah mati.


salah satu inspirasi terbesarku yaitu kamu. ya, aku yakin kamu sudah mengetahuinya sejak dulu. entah, mungkin inilah jati diriku yang sebenarnya, hidup dengan cara berkarya lewat tulisan-tulisanku sendiri.

maaf untuk beberapa tulisanku yang terlalu memojokkan kamu, membenci, mencaci, merendahkanmu, menganggapmu buruk, atau apalah itu. aku hanya menulis apa yang aku pikirkan saat itu, ketika di dalam pikiranku sedang terlintas kata-kata itu. sekali lagi maaf, saat itu aku sedang berdansa dengan frasa-frasa yang ada di dalam otakku. toh, semua itu hanya sekilas kan? kenyataannya perasaan bisa berubah terhadap waktu.

dan yang aku tekankan satu hal, rasa itu tetap dan akan selalu ada buat kamu. nggak peduli apakah kamu mau membalasnya atau tidak. aku tulus menulis semua ini. tulisan-tulisanku memang banyak yang aku dedikasikan buat kamu. bahkan 80% dari semuanya adalah tentang kamu. aku nggak pernah minta kamu buat selalu jadi inspirasiku, karna inspirasi yang sesungguhnya nggak harus terikat oleh suatu hubungan.

kamu adalah inspirasi terindah yang pernah kupikirkan. terima kasih, aku putuskan untuk tetap menulis, semua hal yang aku lihat, dengar dan rasakan akan menjadi inspirasi setiaku. dan kamu nggak akan pernah mati untuk selalu ada di pikiranku. kusebut kamu bintang, kamu tau sendiri kan, bintang itu jauh di langit, dan aku hanya bisa melihat kamu dari kejauhan, nggak akan bisa aku sentuh, itu nyata seperti kamu kan? kamu nggak akan bisa aku sentuh lagi. rupanya aku tepat menganalogikan kamu sebagai bintang sejak awal kita bertemu. dan kini aku akan tetap menulis bukan hanya untukmu saja melainkan untukku dan untuk mereka juga.

"kapan lagi kutulis untukmu, tulisan-tulisan indahku yang dulu, pernah warnai dunia, puisi terindahku hanya untukmu..
mungkinkah kau kan kembali lagi, menemaniku menulis lagi, kita arungi bersama puisi terindahku hanya untukmu.." -- Jikustik, Puisi --

lagu ini cocok banget ya buat aku :)

dan aku akan tetap menulis tentang kamu, Tentang Bintang. karena inspirasi ini darimu, sebabmu dan untukmu @faf :)

Monday, June 6, 2011

aku berhenti...

aku berhenti ...

menjadikanmu inspirasi dalam tulisanku
mendendangkan namamu di tiap malam sunyiku
menempa kegelisahan diantara bayangan kerinduan
menanti hangat sapamu di cerah mentari esokku
memelas pada detik jam dinding kamarku, berharap ini hanyalah mimpi buruk

"aku tak mampu berjanji, namun aku hanya bisa berharap
ini tak akan terulang..." -- April 2010 --
sebaris kalimat yang masih kuingat terlontar manis dari bibir dustamu

dan kini aku pun juga tak mampu berjanji
namun aku juga hanya bisa berharap
ini juga tak akan pernah terulang
tak akan terulang
ya, aku berhenti...