Showing posts with label bintang. Show all posts
Showing posts with label bintang. Show all posts

Wednesday, December 28, 2011

Seperti Bintang

Yang tak kusadari, berawal dari gelap.
Ia pekat.
Serasa hampa dan alpha.
Belum lagi dingin hingga membuatku menggigil.
Ah, sejak awal aku memang membenci malam.
Meski tirai gerimis menggenangi kelamnya.
Tetap saja aku membenci.
Dan malam itu kau tersenyum menawan.
Ada frasa yang sulit untuk dijabarkan.
Tampak asing.
Dengan segumpal temaram cahaya.
Aku tertegun sejenak.
Kerlip itu...
Akankah kau muasalnya?

(Desember - 2011)

Tuesday, July 19, 2011

Tentang Kita



"Tik..Tik..Tik..
Bunyi hujan diatas genting
Airnya turun tidak terkira
Cobalah tengok dahan dan ranting
Pohon dan kebun basah semua"

Untuk hujan yang kadang berpaling dari musimnya
Untuk deras yang senantiasa meredam jejak kemarau
Untuk kelabu yang memecah kebiruan langit
Untuk dingin dan beku yang menjejali rongga hati

"Bintang kecil
Di langit yang tinggi
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat Kau berada"

Ketika gelap telah mencapai titik terujung
Ketika temaramnya mampu mengusir warna jingga
Ketika sang ratu malam sepakat untuk membuyarkan sandiwara
Ketika kegaduhan seraya lenyap dari pandangan

"Here comes so rain again
Fallin' from the star
Drenched in my pain again
Becoming who we are"

Sahabatku, tetaplah kau menjadi hujan bagi kemarau mereka
Sedang aku tetap menjadi bintang bagi malam mereka
Kita tak pernah berada di satu sisi langit yang sama
Namun kita pasti berada di langit yang sama-sama milikNya


TENTANG KITA = HUJAN DAN BINTANG :)

Dedicated for : arek kriwul eleeeeek

(Juli - 2011)

Friday, July 8, 2011

Kisah tentang Bintang dan Hujan.

Hampir tak pernah ada hujan yang menyapu langit malamku, begitu pula sebaliknya.
Tak pernah ada bintang ketika hujan mengguyur malamnya.
Semuanya berjalan sesuai aturan, bintang di malam tanpa hujan, hujan di langit tanpa bintang.
Baginya, bagiku, dua keajaiban itu terus menerus bergulir tanpa henti, kadang terjadi bersamaan di bagian langit yang berbeda.
Langitku dan langitnya.
Sempat waktu itu tiada satupun menghias langitku, entah itu bintang atau awan.
Kau tahu? Dia datang kepadaku hanya sekedar untuk berucap "Bintangmu pasti kembali" sambil tersenyum.
Meski nyatanya bintangku telah benar-benar pergi.
Dia yang selalu meyakinkanku, bahwa akan ada bintang jatuh terindah yang nantinya menyapaku.
Dan ia sanggup membuatku tersenyum :)
Sampai suatu hari, hujan pun murka.
Tak biasanya hujan hadir bersama guntur, namun kali ini hujan lebih mirip seperti badai.
Dihempaskan tubuhnya menceracaukan apapun yang ia lewati.
Garis-garisnya yang tajam menghunjam dan mengoyak kulit ari.
Hujan memurka tiada penjelasan, melaknat diriku yang sedang menggigil di balik selimut.
Biarkan aku mati kedinginan di tempat ini.
Toh tak ada lagi alasan yang membuatku ingin tetap menanti bintang jatuh.
Namun dirinya kembali tersenyum sambil mengatakan "Bintangmu pasti kembali".
Arrrgggghhhhhhhhhhhhhhhhh.
Sempat ingin kulawan hujan, namun aku juga tak mau menyakitinya.
Hujan adalah bahagianya, tak mungkin aku menodai kebahagiaan miliknya.
Hingga...kutemukan bintang jatuh di langit.
Bintang yang benar-benar indah, dengan tiga kedipan di tubuhnya.
Bintangku satu, tak pernah jadi dua.
Bintangku berbeda, tak mungkin seperti dia.
Bintangku hanya kamu, tak akan berganti dia.
Percayalah.
Aku untuk Bintang, dan Dia untuk Hujan.

***
(Juli - 2011)

Saturday, June 11, 2011

Tentang Bintang :)


"tetep dilanjutin ya nulisnya.

nulis itu jiwamu"
--kamu, 08 juni 2011--



nggak akan mungkin aku berhenti nulis dengan alasan konyol itu, percayalah. itu hanya sebuah kata-kata ilusi dalam sajakku saja. jari-jari ini akan berhenti menari dengan sang pena jika syaraf-syaraf di tangan ini terputus, atau membeku, atau mati rasa. segalanya akan berubah ketika inspirasi sudah musnah dari bumi ini. dan kenyataannya, inspirasi nggak akan pernah mati.


salah satu inspirasi terbesarku yaitu kamu. ya, aku yakin kamu sudah mengetahuinya sejak dulu. entah, mungkin inilah jati diriku yang sebenarnya, hidup dengan cara berkarya lewat tulisan-tulisanku sendiri.

maaf untuk beberapa tulisanku yang terlalu memojokkan kamu, membenci, mencaci, merendahkanmu, menganggapmu buruk, atau apalah itu. aku hanya menulis apa yang aku pikirkan saat itu, ketika di dalam pikiranku sedang terlintas kata-kata itu. sekali lagi maaf, saat itu aku sedang berdansa dengan frasa-frasa yang ada di dalam otakku. toh, semua itu hanya sekilas kan? kenyataannya perasaan bisa berubah terhadap waktu.

dan yang aku tekankan satu hal, rasa itu tetap dan akan selalu ada buat kamu. nggak peduli apakah kamu mau membalasnya atau tidak. aku tulus menulis semua ini. tulisan-tulisanku memang banyak yang aku dedikasikan buat kamu. bahkan 80% dari semuanya adalah tentang kamu. aku nggak pernah minta kamu buat selalu jadi inspirasiku, karna inspirasi yang sesungguhnya nggak harus terikat oleh suatu hubungan.

kamu adalah inspirasi terindah yang pernah kupikirkan. terima kasih, aku putuskan untuk tetap menulis, semua hal yang aku lihat, dengar dan rasakan akan menjadi inspirasi setiaku. dan kamu nggak akan pernah mati untuk selalu ada di pikiranku. kusebut kamu bintang, kamu tau sendiri kan, bintang itu jauh di langit, dan aku hanya bisa melihat kamu dari kejauhan, nggak akan bisa aku sentuh, itu nyata seperti kamu kan? kamu nggak akan bisa aku sentuh lagi. rupanya aku tepat menganalogikan kamu sebagai bintang sejak awal kita bertemu. dan kini aku akan tetap menulis bukan hanya untukmu saja melainkan untukku dan untuk mereka juga.

"kapan lagi kutulis untukmu, tulisan-tulisan indahku yang dulu, pernah warnai dunia, puisi terindahku hanya untukmu..
mungkinkah kau kan kembali lagi, menemaniku menulis lagi, kita arungi bersama puisi terindahku hanya untukmu.." -- Jikustik, Puisi --

lagu ini cocok banget ya buat aku :)

dan aku akan tetap menulis tentang kamu, Tentang Bintang. karena inspirasi ini darimu, sebabmu dan untukmu @faf :)

Thursday, February 10, 2011

Bintang

Aku menanti peluhmu tiap malam. Entah mengapa tak terasa lelah sama sekali. Jiwaku akan tenang begitu kau muncul. Sesaat tersenyum sambil menatapmu. Bintang..

Langitku tak akan manis tanpa hadirmu. Gelap dan polos. Karna kau memang tercipta untuk menghiasi malamku. Dan ketika jiwaku telah terlepas dari raga ini, pesonamu akan semakin dekat, bahkan dalam genggamanku.

Thursday, February 3, 2011

Kerinduan Sang Bulan (part. 3)

Dan Sang Bulan mulai meresah. Malam ini hujan tak singgah. Namun mengapa Sang Bintang tak jua datang? Beribu tanya muncul menggores benaknya. Sakit. Sang Bulan bahkan tak tega membenci waktu. Detak jantungnya perlahan melemah, mengiringi detik kerinduan yang terpaksa ia telan. Baginya malam ini tetap sunyi. Meski lampu kota berkedip riang, sorak mesin menderu hebat.

Dan Sang Bulan pun mulai terisak...


***

Setitik cahaya menghentikan tangis Sang Ratu Malam. Ia menoleh, dan cepat-cepat beranjak dari kegundahan. "Aku datang" ucap cahaya itu. Sang Bulan kembali meraung. Namun kali ini bukan gundah. Sang Bintang telah pulang. Yaa, penantian panjang itu nampaknya telah berakhir malam ini :)

Kerinduan Sang Bulan (part. 2)

Kurasa belum cukup untuk pagi ini. Dalam benaknya, sang bulan masih tersungkur menanti malam. Meski saat ini bukan waktu yang tepat untuk merindu. Bayangnya seakan menari-nari dalam keresahan. Mencabik penantian hingga membuatnya menyerah. Ia tahu, nafas ini tak akan lama lagi. Namun sepercik harapan telah ia raih bersama dengan gundah, lagi-lagi tentang kegundahan.

Betapa tidak, secercah senyuman nyaris sirna sejak Sang Bintang pergi. Rupanya sudah tak tersisa lagi, lalu Sang Bulan beralih. Ia mengeluh pada dirinya. Dengan sedikit tangis di genggamannya, ia meminta pada Sang hujan. "Kumohon kau jangan datang malam ini, aku ingin bertemu Sang Bintang".

Kerinduan Sang Bulan

Bulan malam ini sedang mengeluh. Dirinya harus terpaksa menahan gemuruh rasa yang berbaur menjadi satu. Cahaya nya memburam seketika, walaupun ia sebenarnya juga lelah menyinari kegelapan. Tampaknya sang bulan sedang merindu. Langkahnya menjadi tertatih ketika gelap semakin mencapai titik terujung.

Sejenak sang bulan beralih dari singgasana. Dipandanginya sosok istimewa dibalik pigura merah. Sesekali, ia mengharap agar dapat merogoh waktu. Lagipula tak ada yang mampu mengurungnya selain gejolak rasa yang mencekam, seperti malam ini.

''malam ini aku sedang merindukan Sang Bintang'' ucap Sang Bulan.

Friday, January 28, 2011

tak perlu

Tak perlu bersimpuh duka
Apalagi mengangkat asa
Ini hanya sementara
Yaa...ini tak akan lama

Tak perlu bermuram durja
Kau ingat, sang senja tak pernah beradu lalu
Ia cukup singgah sebentar
Sampai akhirnya, kegelapan menyatu dengan waktu

Bintang seakan menghiburku
Sorot kilaunya memancarkan harapan
Di sisi lain, ia membujukku agar tak lemah
Meskipun jiwa ini hampir lelah dan kalah

***

Bias cahayanya semakin menyempurnakan langkahku
Garis-garis spektrum nampak indah menghiasi mimpiku
Fatamorgana terlukis semu dalam benakku
Aku tidak sedang bermimpi
Namun aku sedang bercita-cita

***
Adinda Retna Pradini
with several dreams, hopes and wishes :)