Showing posts with label senja. Show all posts
Showing posts with label senja. Show all posts

Sunday, April 8, 2012

dikelupas keyakinan

                                      :kepada sahabat yang membenci, Ni Wayan
                                        
ni, lekaslah mengeja hatimu
sebelum keyakinan mengelupasimu
semua akan terhisap dalam mesin waktu
rapi, seperti ponimu

ni, hari masih terbilang pagi
tapi bola mata senjamu ingin segera menari
kadang kau teramat merindui dimensi
dimana mimpi menjelma pada janji dalam hati

ni, tiada bintang tak bertuan kasih
kecuali iba sebab dikunyah letih
bila masih ragu, tetaplah berdalih
pun sakitnya tak buatmu berhenti merintih


"apa kabar, ni? masihkah kau mencintai lelaki senja yang sedang bersamaku saat ini?"


***


(April - 2012)

Monday, July 4, 2011

Sore yang Gundah

gemeletup hasrat mulai menghampa.
seiring senja yang asyik menyapa luka.
betapa sore menggundah tiada arah.
mengerutkan wajah sendumu yang merah merona.
kupikir malam tadinya sempat berkeluh kesah.
melamunkan esok yang belum tentu cerah.
hingga senantiasa enggan menghadirkan kisah.
menyisir kenangan pahit bersama segelintir lara.
desiran nafasmu kian menggelora.
selaras kebekuan hati ketika menjemput asa.
sore yang gundah.
kusapa dirimu di sela temaram merah.
kuharap ini terakhir kalinya.
kau menghadirkan duka diantara senyuman paksa.


                                pict by: Adinda Retna Pradini
                                       device : Samsung Wave 525
                              model scene : sunset

Adinda Retna Pradini
(Juli - 2011)

Friday, April 8, 2011

Secangkir kopi

Malam ini ku butuh kau, kopi. Ya, dan mungkin aku merindu. Secangkir kelegamanmu yang mempesona, dengan cita rasa khas pada guratan jejakmu di tepi cawanku. Dan kurasa kau mampu mengungguli minuman bersoda favoritku. Meski kau bukan yang pertama di hati. Layaknya setetes oase di hamparan gurun Gobin, kenikmatanmu mampu membungkam seluruh letih dalam angan. Awalnya kukira kau minuman bagi mereka yang telah senja, atau sebagai pelengkap rokok di tengah gurauan pemuda metropolis. Tak menyangka jika kini aku mencintaimu, kopi. Pada tepian aromamu yang menusuk hidung. Di sekujur ruangan cangkirku yang kau kotori dengan ampasmu, aku begitu mencintaimu. Bahkan ketika harus kusudahi malam dengan meneguk kesegaranmu, aku tak pernah kecewa. Selalu kudapati kau yang konsisten. Tak pernah sekalipun kutemui kau dengan curahan rasa yang menipu. Dan kuakui kau memang temanku yang paling setia. Sembari menanti fajar di ufuk timur, kau temani aku menuntaskan laporan praktikum untuk keesokannya. Meskipun bibir ini selalu mencela waktu yang berkunjung terlalu cepat....

"Secangkir kopi dan setumpuk hardcopy Pengantar Instrumentasi, Minggu 3 April 2011"