Showing posts with label malam. Show all posts
Showing posts with label malam. Show all posts

Sunday, December 11, 2011

Jengah dengan Malam

Malam ini memang milik kita berdua
           Gelak tawa yang kurindu
Menggenangi sisa-sisa nafas
Mengunci sela keresahan

Aku bergegas meraihmu
         Sebelum matahari terbit
                    Karna tubuhmu akan meleleh
Bersama dengan tarian lumbung

Dan kubungkam sekotak hasratku
        Berikut sepagut dalih takjubmu
Mengapabilakan keheningan
Dengan tabiat luka

Bahtera yang kujunjung kini
Mustahil bila kauubah dengan ingin
              Bila telah jenuh dari kisah
              Ubahlah..maka kau akan terperangah

Nyanyian fajar menanti
       Aku tetap tak ingin pergi
Kiranya aku hanya ingin mati
Lalu berfatamorgana dengan mimpi

Aku jengah dengan malam
Tetapi tidak untuk malam ini

*terima kasih untuk malam ini, sahabatku Fahmi Ibrahim :)
(Desember - 2011)

Sunday, October 16, 2011

Ketika jenuh..

Muaraku kembali merintik. Kali ini terdengar gundah. Maaf menguntai setiap khilaf yang tersirat. Kubiarkan nafasku meyakini ikrar yang terucap dari bibirmu. Inikah akhir kita? Entahlah. Separuh jiwaku memberontak kepada waktu. Mengapa detik tak berujung ketika tirai malamku tersingkap. Diantara ragu yang menjejali hati, aku tak sanggup beringkar. Kan kubawa setitik hatimu kedalam laksana gaung kasihku. Senada dengan irama senyum yang senantiasa terdengar merdu ketika cintamu menyambut pagiku.

Friday, April 8, 2011

Secangkir kopi

Malam ini ku butuh kau, kopi. Ya, dan mungkin aku merindu. Secangkir kelegamanmu yang mempesona, dengan cita rasa khas pada guratan jejakmu di tepi cawanku. Dan kurasa kau mampu mengungguli minuman bersoda favoritku. Meski kau bukan yang pertama di hati. Layaknya setetes oase di hamparan gurun Gobin, kenikmatanmu mampu membungkam seluruh letih dalam angan. Awalnya kukira kau minuman bagi mereka yang telah senja, atau sebagai pelengkap rokok di tengah gurauan pemuda metropolis. Tak menyangka jika kini aku mencintaimu, kopi. Pada tepian aromamu yang menusuk hidung. Di sekujur ruangan cangkirku yang kau kotori dengan ampasmu, aku begitu mencintaimu. Bahkan ketika harus kusudahi malam dengan meneguk kesegaranmu, aku tak pernah kecewa. Selalu kudapati kau yang konsisten. Tak pernah sekalipun kutemui kau dengan curahan rasa yang menipu. Dan kuakui kau memang temanku yang paling setia. Sembari menanti fajar di ufuk timur, kau temani aku menuntaskan laporan praktikum untuk keesokannya. Meskipun bibir ini selalu mencela waktu yang berkunjung terlalu cepat....

"Secangkir kopi dan setumpuk hardcopy Pengantar Instrumentasi, Minggu 3 April 2011"

Monday, March 7, 2011

Suasana malamku

Malamku dingin, terbasahi oleh butiran hujan yang terbang membawa angan. Menyapu setiap lelah yang selalu menghadang di ujung kegelapan. Seolah menimang tubuhku dalam ketenangan sukma. Meski rautmu menjelma abadi pada hitam yang mutlak. Menyelaraskan letih, serupa untuk mengagumi tiap lekuk parasmu. Dingin merasuk kalbuku, dan mengutip apapun yang terjerat di separuh khayal. Rajutan mimpi segera menyambutku di gerbang keletihan. Betapapun ia sanggup terjaga, nampaknya waktu tak tega menutup harapan. Pada sekejap malamku yang makin memudar, aku bergumam tentang syair rindu. Masih untuknya, dan mungkin esok masih demikian ...